Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA – Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan utama dalam industri halal global.
Dengan jumlah penduduk muslim yang besar dan pasar domestik yang luas, Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekonomi halal.
Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya mampu mengangkat posisi Indonesia sebagai pemimpin ekonomi halal dunia.
Baca Juga:
Penguatan ekosistem, tata kelola, pembiayaan, hingga inovasi menjadi tantangan yang masih harus diselesaikan.
Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam diskusi publik bertajuk "Masa Depan Ekonomi Halal RI" yang digelar Universitas Paramadina bersama Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF di Kampus Paramadina Cipayung, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Forum yang menghadirkan akademisi, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan tersebut menyoroti pentingnya transformasi industri halal Indonesia agar tidak hanya menjadi pasar besar, tetapi juga mampu menjadi pusat produksi, inovasi, dan investasi halal dunia.
Berdasarkan Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2025/2026, nilai industri halal global mencapai USD2,6 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD3,56 triliun pada 2029.
Meski memiliki potensi besar, posisi Indonesia justru mengalami penurunan dalam indeks ekonomi halal global.
Indonesia berada di peringkat keempat setelah sebelumnya menempati posisi ketiga.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan pasar domestik belum sepenuhnya diikuti dengan peningkatan daya saing, penguatan industri, serta pembangunan ekosistem halal yang terintegrasi.
Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini mengatakan pengembangan ekonomi syariah tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah.
Menurutnya, pendidikan tinggi, riset, dan inovasi memiliki peran penting dalam membangun sumber daya manusia yang mampu mengembangkan industri halal.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.