Penilaian tersebut tertuang dalam laporan Eye on the Market bertajuk "Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026" yang menganalisis ketahanan energi di 52 negara yang mencakup sekitar 82 persen konsumsi energi dunia.
Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut capaian tersebut sebagai hasil dari kebijakan jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan energi nasional.
"Hasil ini merupakan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan pemanfaatan energi domestik dan transisi energi," ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Sabtu (25/4/2026).
Dalam laporan tersebut, Indonesia mencatat insulation factor sebesar 77 persen, berada di bawah Afrika Selatan (79 persen) dan di atas Tiongkok (76 persen) serta Amerika Serikat (70 persen).
Ketahanan energi Indonesia disebut ditopang kuat oleh produksi batu bara domestik yang menyumbang sekitar 48 persen konsumsi energi akhir nasional, disusul gas bumi 22 persen, dan energi terbarukan sekitar 7 persen.
J.P. Morgan juga menyoroti rendahnya ketergantungan Indonesia terhadap jalur distribusi energi global, terutama impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz yang hanya sekitar 1 persen dari konsumsi energi nasional.
Kondisi ini membuat Indonesia dinilai lebih tahan terhadap gejolak geopolitik global dibandingkan sejumlah negara maju yang sangat bergantung pada impor energi.
Meski demikian, pemerintah menegaskan tidak akan lengah. Sejumlah strategi tetap dijalankan, mulai dari optimalisasi produksi migas domestik, percepatan energi baru terbarukan (EBT), hingga pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai.
Pemerintah juga akan terus memperkuat diversifikasi energi dan jalur logistik untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.*
(d/dh)
Editor
: Dharma
JP Morgan Sebut Indonesia Negara Paling Tahan Guncangan Energi Dunia Berkat Batu Bara