BREAKING NEWS
Jumat, 31 Juli 2026

Rupiah Ambruk Lagi! Tembus Rp17.363 per Dolar AS

- Jumat, 08 Mei 2026 09:38 WIB
Rupiah Ambruk Lagi! Tembus Rp17.363 per Dolar AS
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada awal perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, setelah sehari sebelumnya sempat menguat di tengah sentimen meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah dibuka melemah 0,06 persen ke level Rp17.353 per dolar Amerika Serikat.

Tak lama setelah pembukaan pasar, tekanan terhadap mata uang Garuda semakin dalam. Hingga pukul 09.06 WIB, rupiah tercatat turun 0,12 persen ke posisi Rp17.363 per dolar AS.

Baca Juga:

Pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu lonjakan harga minyak dunia.

Harga minyak Brent kontrak Juni sempat melonjak 1,96 persen hingga menyentuh level US$120,34 per barel sebelum bergerak di kisaran US$114 per barel pada perdagangan pagi.

Kenaikan harga minyak dipicu bentrokan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memperbesar ketidakpastian pasar global.

Tekanan tidak hanya dirasakan rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga bergerak melemah.

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,55 persen.

Disusul baht Thailand yang melemah 0,35 persen, ringgit Malaysia turun 0,18 persen, serta peso Filipina yang terkoreksi 0,13 persen.

Sementara itu, yuan offshore, dolar Hong Kong, dolar Singapura, yen Jepang, dan dolar Taiwan masih berada di zona hijau meski penguatannya terbatas.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menanti pengumuman posisi cadangan devisa Indonesia yang dinilai menjadi indikator penting terhadap stabilitas rupiah.

Sepanjang kuartal pertama 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat telah terkuras sekitar US$8,4 miliar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pada Maret 2026, cadangan devisa turun sebesar US$3,7 miliar menjadi US$148,2 miliar dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan tersebut terjadi di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi akibat konflik geopolitik global dan gejolak harga energi.

Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.*


(bb/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Sempat Hijau, IHSG Tiba-Tiba Masuk Zona Merah di Awal Perdagangan
Harga Emas Antam Turun Tipis ke Rp2,839 Juta per Gram, Investor Mulai Ambil Untung
Perry Warjiyo Ungkap Penyebab Rupiah Melemah ke Dolar AS: Faktor Global dan Musiman Jadi Pemicu Utama
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.333 per Dolar AS, Sentimen Damai AS-Iran Jadi Pendorong
Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Pengamat: Dampaknya Belum Dirasakan Merata oleh Masyarakat
Harga Pangan Bikin Kaget, Cabai Rawit dan Telur Ayam Kompak Naik!
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru