Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA – Pemerintah menjalankan program pemulihan lahan pertanian di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Program ini menjadi bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus pemulihan ekonomi masyarakat.
Fokus utama pemulihan mencakup pengembalian produktivitas lahan, pengembangan kawasan pertanian berbasis karakteristik wilayah, serta diversifikasi komoditas pangan dengan pendekatan adaptasi perubahan iklim.
Baca Juga:
Pemerintah menargetkan sistem produksi pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap percepatan pemulihan sektor pertanian di tiga provinsi tersebut.
Ia menyebut langkah cepat seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar lahan pertanian kembali produktif.
"Bapak Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan kepada seluruh jajaran, mulai dari menteri, gubernur, hingga bupati dan wali kota, agar penanganan lahan pertanian terdampak bencana di tiga provinsi berjalan maksimal," kata Amran saat meninjau rehabilitasi lahan di Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Pemerintah mengalokasikan lebih dari Rp1 triliun untuk mendukung percepatan pemulihan, yang mencakup perbaikan infrastruktur pertanian, irigasi, hingga bantuan sarana produksi bagi petani.
Program tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam Rencana Induk (Renduk) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera.
Dokumen ini menjadi acuan utama pemulihan jangka menengah yang dirancang untuk periode 2026–2028.
Renduk tidak hanya menitikberatkan pada pemulihan fisik, tetapi juga penguatan sistem pangan daerah melalui nilai tambah hasil pertanian, pengembangan koperasi, akses pasar, serta penguatan ketahanan ekonomi petani.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan Renduk menjadi instrumen utama dalam mengoordinasikan pemulihan lintas sektor.
"Sekarang proses menuju pemulihan permanen atau rehab-rekon. Kuncinya adalah renduk yang direkap dari kabupaten, kota, provinsi terdampak, serta kementerian/lembaga," ujar Tito dalam rapat kerja bersama DPR RI di Senayan, Jakarta.
Ia menjelaskan, dokumen tersebut telah diselaraskan bersama Bappenas dan akan menjadi panduan pelaksanaan pemulihan selama tiga tahun ke depan.
Sementara itu, realisasi program pemulihan terus berjalan.
Data Satgas PRR hingga akhir Mei 2026 mencatat bantuan pertanian yang telah tersalurkan mencapai Rp877,126 miliar, mencakup rehabilitasi sawah, optimalisasi lahan, dan pembangunan jaringan irigasi.
Dari sisi fisik, sebanyak 9.931 hektare sawah telah berhasil direhabilitasi dari total target 42.702 hektare lahan terdampak di tiga provinsi tersebut.
Pemerintah menargetkan pemulihan berlanjut seiring percepatan implementasi program di lapangan.*
(ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.