Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah tajam setelah data inflasi PCE dan PDB AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan," ujar Lukman, Jumat (31/7/2026).
Meski demikian, Lukman menilai penguatan rupiah masih akan terbatas.
Sejumlah risiko eksternal masih menjadi perhatian investor, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Kenaikan harga energi dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan memberikan tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, kondisi tersebut juga dapat berdampak pada neraca perdagangan negara yang masih bergantung pada impor minyak.
Dari sisi domestik, sentimen pasar masih bergerak hati-hati.
Investor juga masih mencermati isu terkait kepemimpinan dan independensi Bank Indonesia (BI) yang dinilai dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap kebijakan moneter Indonesia.
"Sentimen domestik masih relatif lemah, terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan dan independensi BI," kata Lukman.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat ini akan bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, kebijakan bank sentral dunia, kondisi geopolitik, serta sentimen investor terhadap perekonomian Indonesia.* (bi/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.