BREAKING NEWS
Senin, 10 Agustus 2026

Rupiah Menguat 0,26 Persen ke Rp17.844 per Dolar AS di Awal Pekan

Adelia Syafitri - Senin, 10 Agustus 2026 09:52 WIB
Rupiah Menguat 0,26 Persen ke Rp17.844 per Dolar AS di Awal Pekan
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat.

Pada perdagangan awal pekan, rupiah menguat 0,26 persen ke level Rp17.844 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah kenaikan kembali harga minyak mentah dunia yang berada di kisaran US$84 per barel.

Baca Juga:

Kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar karena kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara pengimpor energi.

Pergerakan mata uang Asia pada awal perdagangan menunjukkan respons yang beragam terhadap kenaikan harga minyak.

Rupiah menguat bersama dolar Taiwan, peso Filipina, baht Thailand, dan ringgit Malaysia.

Sebaliknya, won Korea Selatan melemah bersama yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan offshore.

Penguatan sejumlah mata uang Asia tidak terlepas dari strategi bank sentral masing-masing negara dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Kebijakan tersebut dilakukan dengan berupaya memperkuat posisi mata uang tanpa menguras cadangan devisa secara berlebihan.

India menjadi salah satu contoh. Negara tersebut disebut menarik hampir US$40 miliar dari diaspora melalui deposito dolar dengan tingkat bunga yang tinggi.

Strategi tersebut dinilai turut membantu pemulihan rupee setelah sebelumnya berada di posisi terendah pada Mei.

Sementara Korea Selatan dikabarkan mendorong percepatan repatriasi dolar korporasi.

Kebijakan tersebut membuat won mencatat penguatan bulanan terbesar sejak 2022.

Indonesia juga berupaya memperkuat posisi pasar keuangannya.

Dalam dua bulan terakhir, Indonesia disebut telah menarik dana sekitar US$1,6 miliar ke pasar obligasi dengan memberikan sejumlah insentif kepada investor.

Namun, penguatan rupiah masih menghadapi tantangan dari sisi fundamental ekonomi domestik.

Salah satu perhatian pasar adalah neraca perdagangan Indonesia yang masih mencatat defisit US$450 juta.

Meski demikian, angka tersebut membaik dibandingkan Mei yang mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini juga akan dipengaruhi sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis.

Salah satunya adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia sebelumnya mengalami pelemahan.

Meski demikian, indeks tersebut masih bertahan di atas level 100 yang menunjukkan konsumen masih berada dalam zona optimistis.

IKK Indonesia tercatat berada di level 120,9 pada Mei. Angka tersebut kemudian turun menjadi 117,8 pada Juni.

Data terbaru IKK akan menjadi salah satu indikator yang dicermati pasar untuk melihat kondisi kepercayaan konsumen terhadap perekonomian nasional.

Di tengah tekanan harga minyak dan dinamika mata uang Asia, arah rupiah selanjutnya akan bergantung pada kombinasi sentimen eksternal, kondisi fundamental domestik, arus modal asing, serta kebijakan bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar.* (bb/ad)

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Harga Pangan Awal Pekan Naik: Beras dan Cabai Makin Mahal
IHSG Dibuka Menguat 0,48 Persen ke Level 6.440, Pasar Saham Asia Mayoritas Hijau
Harga Emas Antam Tak Bergerak, Tetap Rp2,69 Juta per Gram Hari Ini
Jembatan Gantung Sikundo Mulai Dibangun, Warga Aceh Barat Ditargetkan Bisa Melintas Akhir Agustus
Meriahkan HUT Ke-81 RI, Korem 011/Lilawangsa Gelar Lilawangsa Run 2026
1.700 Pelari Ramaikan Lilawangsa Run 2026 di Lhokseumawe, Atlet Nias Taklukkan Pelari Kenya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru