BREAKING NEWS
Selasa, 11 Agustus 2026

Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Bikin Rupiah Melemah ke Rp17.861

Adelia Syafitri - Selasa, 11 Agustus 2026 16:53 WIB
Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Bikin Rupiah Melemah ke Rp17.861
ilustrasi - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (11/8/2026). (Foto: Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Rupiah ditutup melemah 106 poin atau sekitar 0,60 persen ke level Rp17.861 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah salah satunya datang dari sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait kondisi Selat Hormuz.

Menurut Ibrahim, AS dan Iran masih saling menuntut kompensasi atas konflik militer yang terjadi. Situasi tersebut turut memupus harapan pasar terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz secara normal.

Baca Juga:

"Washington menyatakan bahwa jalur perairan tersebut tetap terbuka, sementara Teheran mengklaim telah menutup jalur itu menggunakan ranjau dan pesawat nirawak (drone)," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menuntut Iran membayar kompensasi bagi korban jiwa dalam konflik terbaru. Di sisi lain, Iran juga mengajukan tuntutan kompensasi kepada AS.

Ketidakpastian tersebut menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan energi global. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak dan kembali mendorong kenaikan harga komoditas energi.

Sentimen negatif juga datang dari kelompok Houthi di Yaman yang menyatakan telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco. Kelompok tersebut turut mengancam akan menyerang kapal dan infrastruktur minyak di kawasan Laut Merah.

Perkembangan konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global. Kondisi itu kemudian ikut memengaruhi pergerakan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari Amerika Serikat, pelaku pasar kini mencermati sejumlah data ekonomi yang akan dirilis pekan ini, terutama Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI). Data tersebut dinilai penting karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

CPI AS untuk Juli diperkirakan turun menjadi 3,4 persen secara tahunan dari sebelumnya 3,5 persen. Sementara Core CPI yang tidak memperhitungkan komponen makanan dan energi diproyeksikan turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen secara tahunan.

Pasar juga mencermati perkembangan kebijakan moneter AS. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga pada pertemuan September diperkirakan sekitar 44 persen, turun dari sekitar 67 persen pada pekan sebelumnya.

Dari dalam negeri, pelaku pasar turut memperhatikan agenda tinjauan MSCI pada Agustus 2026. Perubahan hasil peninjauan dan proses rebalancing yang mulai berlaku setelah 31 Agustus menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar domestik.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.797, Jadi Salah Satu Mata Uang Asia yang Tertekan
Destry Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Rupiah Diprediksi Makin Menguat
Rupiah Menguat ke Rp17.755, Sentimen BI hingga Data Inflasi AS Jadi Sorotan
Rupiah Menguat 0,26 Persen ke Rp17.844 per Dolar AS di Awal Pekan
Rupiah Balik Melemah, Dolar AS Sentuh Rp17.941 di Awal Perdagangan
Rupiah Menang Tipis Pagi Ini, Dolar AS Melorot ke Rp17.912
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru