Dengan suara mantap, Jodie dan Jonathan menjawab serentak, "Ya, sungguh," menegaskan ketulusan hati mereka.
Pastor kemudian melanjutkan pertanyaan mengenai komitmen seumur hidup, termasuk kesiapan untuk menerima serta membesarkan anak-anak yang kelak dianugerahkan Tuhan.
"Ya, saya bersedia," jawab keduanya, tanpa ragu.
Momen paling sakral hadir ketika kedua mempelai saling berhadapan, berpegangan tangan, lalu mengucapkan janji pernikahan dengan suara bergetar namun penuh keyakinan.
Jonathan lebih dahulu menyampaikan ikrarnya:
"Saya, Christopher Jonathan Alden, memilih engkau, Maria Brisia Jodie Maurinne, menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya."
Jodie lalu membalas dengan ikrar yang sama, suaranya lembut dan mantap:
"Saya, Maria Brisia Jodie Maurinne, memilih engkau, Christopher Jonathan Alden, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya."
Setelah janji diucapkan, pastor menegaskan bahwa pernikahan keduanya sah secara Gereja Katolik.
"Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia," ujar pastor, sebelum memberikan berkat peneguhan.
Prosesi dilanjutkan dengan pemasangan cincin sebagai simbol kesetiaan, lalu Jonathan mengecup kening Jodie, menutup momen penuh haru yang mendapat tepuk tangan hangat dari keluarga dan kerabat yang hadir.
Pernikahan ini menjadi babak baru bagi Jodie dan Jonathan yang selama ini dikenal menjaga hubungan mereka jauh dari sorotan berlebihan.
Hari ini, keduanya memulai perjalanan rumah tangga dengan ritus Gereja yang sakral dan sederhana.*