BREAKING NEWS
Rabu, 28 Januari 2026

Beras Banyak tapi Mahal, Inilah Titik Awal Terungkapnya Modus Oplosan

- Kamis, 24 Juli 2025 13:17 WIB
Beras Banyak tapi Mahal, Inilah Titik Awal Terungkapnya Modus Oplosan
Konfrensi pers beras berbagai merek dalam kasus pemalsuan mutu beras/ oplosan di Bareskrim Polri, Kamis (24/7/2025). (foto: bloombergs)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Kasus beras premium dan medium oplosan tengah menjadi perbincangan hangat. Temuan awal bermula dari kecurigaan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, terhadap lonjakan harga beras di tengah masa panen raya. Kejanggalan tersebut mendorong Kementan dan Satgas Pangan Polri melakukan investigasi mendalam.

"Di masa panen raya, beras kita surplus, tapi harga malah naik tajam dan trennya tidak turun. Ini menimbulkan pertanyaan besar," ujar Brigjen Pol. Helfi Assegaf, Kepala Satgas Pangan Polri, dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Kamis (24/7/2025).

268 Sampel, 212 Merek, Mayoritas Tak Sesuai Mutu

Selama periode 6–23 Juni 2025, tim gabungan Kementan dan Satgas Pangan Polri memeriksa 268 sampel dari 212 merek beras yang beredar di berbagai provinsi. Hasilnya sangat memprihatinkan.

Beras premium:

85,56% tidak sesuai standar mutu

59,78% melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET)

21,66% berat kemasan tidak sesuai dengan isi sebenarnya

Beras medium:

88,24% tidak sesuai standar mutu

95,12% melebihi HET

90,63% berat isi di bawah standar kemasan

Kerugian Konsumen Capai Rp99,35 Triliun per Tahun

Dampak dari praktik beras oplosan ini diperkirakan menimbulkan kerugian luar biasa bagi konsumen.

"Berdasarkan kalkulasi, total kerugian masyarakat akibat ketidaksesuaian mutu mencapai Rp99,35 triliun per tahun," ujar Helfi.

Kerugian dari beras premium: Rp34,21 triliun

Kerugian dari beras medium: Rp65,14 triliun

Polri Naikkan Status ke Penyidikan, Tersangka Segera Diumumkan

Atas temuan tersebut, Bareskrim Polri telah meningkatkan kasus ke tahap penyidikan. Penyidik juga akan segera menggelar perkara untuk menentukan tersangka.

"Ini bukan hanya soal kualitas beras, tetapi menyangkut keadilan bagi konsumen dan integritas pasar pangan kita," tegas Helfi.

Kasus ini turut menguak praktik oplosan yang melibatkan pencampuran beras kualitas medium ke dalam kemasan beras premium, lalu dijual dengan harga tinggi. Hal ini tidak hanya merugikan masyarakat dari sisi ekonomi, tetapi juga secara etika perdagangan.*

(kp/j006)

Editor
:
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru
Kompolnas Bukan Lembaga Pengawas

Kompolnas Bukan Lembaga Pengawas

OlehHabiburokhman. KAMI perlu menanggapi pengawasan kinerja Polri oleh Kompolnas. Perlu digarisbawahi bahwa Kompolnas bukanlah lembaga pen

OPINI