BREAKING NEWS
Senin, 16 Februari 2026

KPAI Sebut Kasus Bunuh Diri Anak di Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara, Bullying dan Game Online Jadi Faktor Utama

Abyadi Siregar - Senin, 16 Februari 2026 15:43 WIB
KPAI Sebut Kasus Bunuh Diri Anak di Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara, Bullying dan Game Online Jadi Faktor Utama
Ilusstrasi. (foto: yesdok)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat kasus bunuh diri anak di Indonesia menempati peringkat tertinggi di Asia Tenggara pada 2023–2024.

Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menyebut jumlah anak yang mengakhiri hidupnya tercatat 46 anak pada 2023, 43 anak pada 2024, dan 27 anak pada 2025.

Hingga awal 2026, telah terjadi lima kasus.

Baca Juga:

"Paling banyak terjadi di Bali dan Nusa Tenggara Timur," ujar Diyah, Senin (16/2/2026).

Menurutnya, faktor penyebab bunuh diri beragam, mulai dari perundungan (bullying), pengasuhan, kondisi ekonomi, percintaan, hingga pengaruh game online.

Sekitar 30 persen kasus terjadi di satuan pendidikan, dengan rentang usia terbanyak 13–17 tahun.

Metode yang digunakan pun beragam, mulai dari gantung diri, menenggelamkan diri di sungai, hingga menabrakkan diri ke kereta api.

Upaya KPAI dan Rekomendasi

Diyah menuturkan, KPAI telah melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kemenkes, KPPPA, Kemenag, Kemendikdasmen, dan Kemensos.

Namun, ia menilai upaya pencegahan belum optimal, karena kewenangan KPAI terbatas pada pengawasan.

Beberapa rekomendasi KPAI kepada pemerintah antara lain:
- Kementerian Kesehatan: Penguatan kesehatan mental anak, peningkatan resiliensi dan ketahanan psikologis.
- Kemenkes dan KPPPA: Penguatan pengasuhan positif di lingkungan keluarga.
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah: Edukasi pencegahan bunuh diri dan penguatan pengawasan di sekolah.
- KemenPPPA: Pencegahan anak mengakhiri hidup di berbagai lingkungan sosial.

Selain pemerintah, KPAI juga mendorong peran orang tua dengan sejumlah langkah pencegahan:
- Memperbanyak aktivitas di luar ruangan, seperti tamasya, camping, atau studi wisata.
- Aktivitas rutin olahraga dan interaksi sosial di dunia nyata.
-Mengembangkan bakat dan potensi anak, serta memberikan apresiasi.
- Membangun kedekatan emosional keluarga.
- Pendekatan spiritual melalui kegiatan keagamaan.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo Terbang ke Washington, Siap Bertemu Trump Bahas Tarif Dagang dan Penguatan Kerja Sama Strategis RI–AS
Kontroversi Mutasi ASN, Ketua IDAI Sebut Diberhentikan Paksa oleh Kemenkes
Kolaborasi Hobi dan Kepedulian Sosial: Komunitas CAKRA Bagikan Bantuan untuk 15 Anak Yatim Menjelang Ramadhan
UU KPK Balik ke Versi Lama? Jokowi Setuju, Pimpinan KPK Santai Menanggapi Kontroversi Ini
PKBM Jejama Pringsewu, Sekolah Alternatif yang Buka Harapan Baru bagi Anak Putus Sekolah dan Warga Kurang Mampu
Pelantikan KORMI Sumut dan Theater Olahraga: Dorong Kolaborasi Masyarakat Menuju Indonesia Bugar 2045
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru