BREAKING NEWS
Rabu, 14 Januari 2026

Usai Venezuela, Trump Incar Tiga Negara Ini!

Abyadi Siregar - Senin, 05 Januari 2026 15:09 WIB
Usai Venezuela, Trump Incar Tiga Negara Ini!
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Sehari setelah operasi militer Amerika Serikat menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Presiden Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial yang memicu spekulasi global.

Kali ini, Trump menyoroti tiga wilayah sekaligus: Greenland, Kuba, dan Kolombia, negara dan kawasan yang dinilai memiliki nilai strategis dalam peta kekuatan Washington di Belahan Barat.

Pernyataan Trump diperkuat oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio, yang menegaskan bahwa pemerintah AS tidak berniat berhenti pada Venezuela.

Baca Juga:

Sikap tersebut memperlihatkan sinyal bahwa Gedung Putih siap memainkan peran yang lebih agresif dan dominan di kawasan Amerika dan sekitarnya.

Greenland Dinilai Krusial bagi Keamanan AS

Dalam keterangannya kepada wartawan di pesawat kepresidenan saat kembali ke Washington dari Florida, Trump kembali menggulirkan wacana pengambilalihan Greenland.

Ia berdalih pulau Arktik itu penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat.

"Greenland saat ini sangat strategis. Ada kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana," kata Trump, seperti dikutip Associated Press, Senin, 5 Januari 2026.

Menurut Trump, Denmark, yang berdaulat atas Greenland, tidak mampu menjamin keamanan wilayah tersebut.

Ketika ditanya soal kemungkinan keterkaitan antara operasi militer AS di Venezuela dan ambisi terhadap Greenland, Trump menjawab ambigu.

"Mereka harus melihatnya sendiri. Saya benar-benar tidak tahu," ujarnya.

Dalam Dokumen Strategi Keamanan Nasional yang dirilis bulan lalu, Trump secara eksplisit menyebut pemulihan "keunggulan Amerika di Belahan Barat" sebagai pilar utama masa jabatan keduanya.

Ia juga menghidupkan kembali Doktrin Monroe abad ke-19 dan Korolarium Roosevelt, bahkan menyebut pendekatan itu sebagai "Doktrin Don Roe".

Denmark Bereaksi Keras

Pernyataan Trump memicu reaksi keras dari Denmark. Perdana Menteri Mette Frederiksen menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk mencaplok Greenland.

"Saya sangat mendesak Amerika Serikat untuk berhenti mengancam sekutu yang memiliki hubungan historis dekat, serta negara dan masyarakat yang telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa mereka tidak untuk dibeli," kata Frederiksen.

Ia juga mengingatkan bahwa Denmark telah memberi akses militer luas kepada AS melalui berbagai perjanjian keamanan NATO.

Ketegangan meningkat setelah Trump menyindir upaya Denmark memperkuat pertahanan Greenland, yang ia sebut hanya menambah "satu kereta luncur anjing lagi".

Kontroversi kian memanas setelah mantan pejabat Trump, Katie Miller, mengunggah peta Greenland berwarna bendera Amerika Serikat dengan keterangan singkat: "SEGERA."

Duta Besar Denmark untuk AS, Jesper Moller Sørensen, menegaskan harapan negaranya atas penghormatan terhadap integritas teritorial Kerajaan Denmark.

Kuba dalam Sorotan

Di kawasan Karibia, Kuba juga masuk dalam radar Washington. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuding aparat keamanan Kuba berperan langsung melindungi Maduro sebelum ia ditangkap.

"Maduro dijaga oleh orang Kuba, bukan oleh pengawal Venezuela," kata Rubio dalam wawancara dengan NBC Meet the Press.

Ia menambahkan bahwa pengawal tersebut juga mengendalikan intelijen internal rezim Maduro.

Pemerintah Kuba mengklaim 32 perwira tewas dalam operasi militer AS di Venezuela.

Trump menilai Kuba akan menghadapi tekanan ekonomi berat setelah tumbangnya Maduro, mengingat Venezuela selama ini memasok minyak bersubsidi ke Havana.

"Kuba akan jatuh. Kuba akan kalah telak," ujar Trump.

Kolombia Juga Terkena Ultimatum

Trump turut melontarkan ancaman kepada Kolombia dan Presiden Gustavo Petro. Ia menuding Kolombia sebagai pusat produksi dan distribusi kokain global.

Pemerintah AS sebelumnya telah menjatuhkan sanksi terhadap Petro, keluarganya, dan sejumlah pejabat Kolombia atas dugaan keterlibatan dalam perdagangan narkoba.

Washington juga memasukkan Kolombia ke dalam daftar negara yang dinilai gagal bekerja sama dalam perang melawan narkoba, keputusan yang berujung pada pemangkasan bantuan AS.

Ketika ditanya apakah Amerika Serikat akan melakukan operasi militer terhadap Kolombia, Trump menjawab singkat, "Kedengarannya bagus bagi saya."

Rangkaian pernyataan Trump pasca-Venezuela mempertegas arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang semakin ofensif dan unilateral.

Baik sekutu maupun lawan kini dihadapkan pada pertanyaan yang sama: setelah Maduro, siapa target berikutnya?*


(km/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Dituduh Bandar Kokain, Presiden Kolombia Balas Ancaman Trump
Krisis Venezuela: Pengaruh Geopolitik Terhadap Pasar Global dan Ekonomi Indonesia
Indonesia Serukan Dunia Hormati Kedaulatan Venezuela Setelah Penangkapan Maduro
Tensi Mulai Mereda, Presiden Interim Venezuela Undang AS untuk Kerja Sama, Apa yang Diinginkan?
Amerika Serikat, Polisi Dunia atau Penjahat Global?
China Desak AS Bebaskan Maduro, Hentikan Upaya Gulingkan Rezim Venezuela
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru