BREAKING NEWS
Minggu, 01 Maret 2026

Gelombang Protes Iran Tewaskan 544 Orang Tewas dan Ribuan Ditahan, Pemerintah Siapkan ‘Aksi Perlawanan Nasional’

Adam - Senin, 12 Januari 2026 14:42 WIB
Gelombang Protes Iran Tewaskan 544 Orang Tewas dan Ribuan Ditahan, Pemerintah Siapkan ‘Aksi Perlawanan Nasional’
Gelombang protes anti-pemerintah di Iran, Minggu (11/1/2026). (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

TEHERAN – Gelombang protes anti-pemerintah di Iran terus berlanjut meski aparat keamanan memperketat penindakan.

Akses informasi semakin sulit karena pemadaman internet dan pemblokiran jaringan telepon, membuat kondisi di lapangan sulit dipantau secara menyeluruh.

Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA), sedikitnya 544 orang tewas dalam aksi protes nasional dalam dua pekan terakhir.

Baca Juga:

Dari jumlah itu, 496 adalah demonstran, sedangkan 48 anggota aparat keamanan. Selain itu, lebih dari 10.600 orang ditahan.

Aktivis Jerman-Iran, Daniela Sepheri, menuturkan kepada DW bahwa aparat menargetkan demonstran secara langsung, bahkan mencoba "masuk ke rumah sakit untuk menculik korban yang terluka."

Sepheri menekankan bahwa situasi sangat berbahaya, namun tidak menyurutkan tekad warga untuk terus melakukan aksi protes.

"Sangat berbahaya bagi orang-orang untuk keluar dan berdemonstrasi, tapi mereka tetap melakukannya. Laporan-laporan tentang pembantaian terus kami terima," ujar Sepheri.


Pemerintah Iran menyebut aksi protes sebagai "kerusuhan" dan mengumumkan tiga hari berkabung nasional bagi aparat yang tewas.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengumumkan rencana pawai yang disebut aksi perlawanan nasional yang berlangsung Senin, 12 Januari.

Jurnalis Iran sekaligus redaktur Kayhan London, Nazenin Ansari, menyebut gelombang protes saat ini berbeda dari sebelumnya karena memiliki figur pemimpin, yaitu putra mahkota Reza Pahlavi, yang hidup di pengasingan.

Ansari menekankan bahwa aksi protes kali ini bersifat sekuler dan tidak menggunakan narasi agama.

"Berbagai arus politik dalam oposisi kini mulai bekerja sama, sehingga gerakan protes ini semakin menguat," kata Ansari.

Aktivis Sepheri menambahkan bahwa masa depan Iran berada di tangan rakyat. Ia menekankan perlunya pemilu bebas dan referendum untuk menentukan jalan politik negara.

Meski ada kemungkinan kembalinya monarki, keputusan akhir sepenuhnya tergantung pada rakyat Iran.

Gelombang protes terbaru ini menyoroti ketidakpuasan publik terhadap kesenjangan sosial, kondisi ekonomi, dan kebijakan pemerintah yang keras.

Sementara itu, dunia internasional memantau ketegangan di Iran dengan cemas, mengingat risiko kekerasan yang terus meningkat.*


(d/ad)

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Situasi Iran Kian Memanas, Trump Klaim AS “Siap Membantu” Demonstran Anti-Pemerintah
Panggung Dunia, Rumah Sendiri Retak
Iran Memanas, Kemlu Pastikan WNI Aman
Kepercayaan Global: Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB, Tantangan Diplomasi Berat Menanti
Trump Sebut Iran dalam Masalah Besar, Peringatkan Otoritas: Jangan Tembak Demonstran
Iran Tegaskan Siap Balas Serangan AS dan Israel, Meski Tidak Ingin Perang
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru