JAKARTA– Pejabat Iran menyebut sekitar 2.000 orang tewas dalam aksi protes besar-besaran yang berlangsung di sejumlah kota Iran beberapa hari terakhir.
Gelombang unjuk rasa ini dimulai pada 28 Desember 2025 di kawasan Grand Bazaar, Teheran, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi dan depresiasi tajam mata uang Rial Iran.
Protes yang awalnya bersifat ekonomi itu kemudian meluas menjadi gerakan sosial-politik menentang pemerintahan teokratis yang berkuasa sejak revolusi 1979.
Seorang pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya menyalahkan kelompok "teroris" atas kematian warga sipil dan personel keamanan.
Sementara itu, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, menyatakan keprihatinannya atas eskalasi kekerasan.
"Siklus kekerasan mengerikan ini tidak dapat berlanjut. Rakyat Iran dan tuntutan mereka untuk keadilan, kesetaraan, dan kebenaran harus didengar," ujarnya, Selasa (13/1).
Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA), setidaknya 646 orang tewas akibat penindakan pasukan keamanan.
Korban tewas terdiri dari 512 demonstran dan 134 aparat. Lebih dari 1.000 orang dilaporkan luka-luka, sementara sekitar 10.700 orang ditahan di 585 lokasi di 31 provinsi Iran.
HRANA menegaskan data ini akurat, berdasarkan informasi dari jaringan pendukungnya di Iran yang memverifikasi laporan di lapangan.
Aksi protes terus berlangsung di berbagai wilayah Iran, menandakan ketegangan yang belum mereda antara masyarakat dan otoritas.*
(d/dh)
Editor
: Adam
Tragedi Protes Iran: 2.000 Orang Tewas dalam Gelombang Demo Terbesar