Anggotanya melibatkan sekitar 20 negara, termasuk Belarusia, Azerbaijan, dan Hungaria.
Pertemuan awal dewan sempat dipimpin Trump di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Januari lalu.
Trump menyebut dewan ini sebagai "kumpulan pemimpin paling bergengsi yang pernah ada dalam sejarah" dan menjadikan Washington sebagai markas besarnya.
Awalnya, Gedung Putih menyatakan dewan ini bertujuan membimbing Gaza melalui proses pelucutan senjata dan transisi teknokratis.
Konsep ini bahkan sempat mendapat dukungan PBB pada November 2025 sebagai bagian dari proses perdamaian yang lebih luas.
Namun, struktur dan piagam dewan yang semakin jelas justru menimbulkan kebingungan.
Draf piagam organisasi tidak menyebutkan kata "Gaza", sehingga sekutu dekat AS seperti Inggris, Prancis, dan beberapa anggota Uni Eropa khawatir akan tujuan sebenarnya dan memilih tidak terlibat.
Pemerintahan Trump pun mencoba meredam kekhawatiran, menegaskan bahwa dewan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran PBB.
Meski demikian, draf piagam menunjukkan indikasi sebaliknya.
Trump juga sempat mengecam sekutu G-7 yang menjauh, bahkan mengancam akan memberlakukan tarif tambahan terhadap Prancis dan membatalkan undangan bagi Perdana Menteri Kanada, Mark Carney. Denmark, yang wilayah Greenland-nya disebut-sebut Trump ingin kuasai, juga tidak diundang.
Dalam draf resmi, dewan ini digambarkan sebagai lembaga yang "berupaya mempromosikan stabilitas, memulihkan tata kelola yang dapat diandalkan dan sah, serta mengamankan perdamaian abadi di wilayah yang terkena dampak atau terancam konflik."
Dengan agenda perdana di Washington, dewan ini diperkirakan akan menjadi sorotan global, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang batasan kewenangan dan peran nyata dalam proses perdamaian internasional.*