WASHINGTON, D.C. — Presiden Amerika SerikatDonald Trump mengungkapkan tengah menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh berpengaruh di Iran terkait kemungkinan perubahan kepemimpinan di negara tersebut.
Namun, Trump menolak mengungkap identitas sosok yang disebut-sebut berpotensi menjadi pemimpinIran berikutnya.
Trump menyatakan alasan utama merahasiakan identitas tersebut adalah demi keselamatan individu yang bersangkutan.
"Saya tidak ingin dia dibunuh," ujar Trump dalam pernyataannya.
Menurut Trump, sosok yang dimaksud bukan figur biasa.
Ia menyebut individu tersebut memiliki pengaruh besar dan dihormati oleh masyarakat Iran, serta berpeluang memimpin jika terjadi pergantian rezim.
Trump juga menegaskan komunikasi yang dilakukan bukan dengan pemimpin tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei.
Ia mengklaim pembicaraan berlangsung dengan sejumlah pihak lain yang memiliki peran strategis dalam dinamika politik Iran.
Dalam pernyataan yang sama, Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat tengah membahas isu-isu penting dengan pihak Iran, termasuk masa depan jalur perdagangan global di Selat Hormuz.
Ia bahkan membuka kemungkinan pengelolaan bersama jalur tersebut dengan kepemimpinan Iran di masa depan.
"Itu akan segera dibuka. Akan dikendalikan bersama. Mungkin saya, Amerika Serikat, dan Ayatollah—siapa pun pemimpinnya nanti," kata Trump.
Lebih jauh, Trump memberi sinyal adanya potensi perubahan besar dalam struktur kekuasaan di Iran.
Ia menyebut kemungkinan terjadinya pergantian rezim secara signifikan, meski tidak merinci bagaimana proses tersebut akan berlangsung.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya dalam relasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Situasi tersebut turut memengaruhi stabilitas regional dan menjadi perhatian dunia internasional.*