BREAKING NEWS
Sabtu, 12 September 2026

333 Siswa Keracunan Kebab MBG, Pihak SPPG Defensif: Sebut Mayones Basi Gara-gara Telat Dimakan

Administrator - Sabtu, 12 September 2026 16:27 WIB
333 Siswa Keracunan Kebab MBG, Pihak SPPG Defensif: Sebut Mayones Basi Gara-gara Telat Dimakan
Isi ompreng MBG dengan menu kebab ayam di Lombok Tengah. (Foto: KOMPAS/KARNIA SEPTIA KUSUMANINGRUM)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

LOMBOK TENGAH - Sebanyak 333 siswa di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjalani perawatan setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Pihak SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu mengklaim proses pengolahan hingga distribusi makanan telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Kepala Yayasan Budi Sain Mangkling Haerudin mengatakan proses pengemasan makanan dimulai sekitar pukul 05.30 WITA. Makanan kemudian diberangkatkan menuju sekolah-sekolah penerima sekitar pukul 08.00 WITA.

"Kalau packing itu jam 05.30 kalau enggak salah, dan berangkatnya ke sekolah itu jam 08.00. Artinya secara prosedural sudah kita jalankan ya dari dapur," kata Haerudin.

Baca Juga:

Menurut Haerudin, jarak sekolah penerima relatif dekat sehingga waktu distribusi telah diperhitungkan. Dia juga menyebut pihak dapur melakukan uji sampel internal sebelum makanan dikirimkan ke sekolah.

"Bahkan ini kita juga buat sampel yang mencicipi pertamanya itu bukan saja dari anak-anak, dari teman kita, anggota juga ada yang menyicipi pagi," ujarnya.

Haerudin kemudian menyoroti menu kebab ayam yang dibagikan kepada siswa. Menurut dia, kebab tersebut menggunakan mayones dan memiliki batas waktu konsumsi tertentu.

"Karena di situ ayamnya kalau dibilang basi wajar karena sudah melampaui mayonesnya. Kebab itu kan campurannya itu, sehingga di bawah jam 09.00 harus dimakan," katanya.

Dia menduga persoalan muncul karena makanan di sejumlah sekolah tidak langsung dikonsumsi setelah tiba. Haerudin mencontohkan adanya kegiatan sekolah yang membuat makanan baru dibagikan kepada siswa setelah acara selesai.

"Jadi kita kan di situ ke pendistribusian, kadangkala namanya guru juga seperti tadi kan ada acara maulidan, pulang maulid setelah itu baru dibagikan anak-anak kita. Ya itu juga kan boleh dikatakan sudah melanggar SOP," ungkapnya.

Haerudin menegaskan jenis menu dan batas waktu konsumsi sebelumnya telah disampaikan kepada pihak penerima.

"Intinya sekarang anak-anak kita ini makan makanan yang tadi itu tidak tepat sesuai SOP dari menu yang sudah diumumkan jauh-jauh hari," ujarnya.

Namun, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan resmi mengenai penyebab para siswa mengalami gangguan kesehatan. Pemeriksaan laboratorium masih dilakukan untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut.

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IDAI Sumut Kritik Gibran Bawa Dokter Pribadi ke Karo: Dokter Anak Kita Ada 300 Lebih, Ngapain Repot-repot?
Keracunan MBG Terus Terjadi, Pengamat: Jika Presiden Prabowo Tetap Memaksakan, Saya Akan Mundur Kalau Saya sebagai Kepala BGN
333 Siswa Keracunan Massal Kebab Ayam MBG, BGN Resmi Hentikan Operasional SPPG Lombok Tengah
IDAI Desak Penghentian Kasus Keracunan MBG: Enough Is Enough, Jangan Ada Lagi Korban Anak
Buntut Keracunan Massal di Karo, Dinkes Sumut Perketat Pengawasan Dapur MBG
Sebulan Lebih Berlalu, Kasus Keracunan MBG 353 Siswa Karo Akhirnya Naik Penyidikan, Polisi Periksa Guru hingga Dokter
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru