Creative Financing Jadi Andalan Sumut, Pajak Digital dan Pengelolaan Aset Digenjot untuk Tingkatkan PAD
MEDAN Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) terus menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui berbagai inovasi pembia
EKONOMI
JAKARTA -Gelombang kritik dari sejumlah purnawirawan TNI terhadap Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan melalui Forum Purnawirawan TNI baru-baru ini memantik diskusi luas di ruang publik.
Pernyataan terbuka tersebut, yang mengandung kritik keras terhadap arah pemerintahan saat ini, menuai beragam tanggapan, baik dari kalangan sipil maupun militer.
Menanggapi isu ini, Mayjen TNI (Purn) Dr. Saurip Kadi, SE, MM, MBA memberikan pandangannya dalam sebuah wawancara eksklusif dengan tim media di Jakarta Selatan, Kamis (1/5/2025).
Sebagai salah satu tokoh militer senior yang dikenal vokal namun tetap menjunjung tinggi etika, Saurip memberikan sejumlah catatan penting yang menyejukkan namun kritis terhadap situasi tersebut.
Hormati Hak Berpendapat, Tapi Jaga Etika Demokrasi
Saurip mengawali penjelasannya dengan menegaskan bahwa dirinya menghormati niat baik para purnawirawan yang menyampaikan kritik, seraya mengingatkan bahwa dalam demokrasi yang sehat, penyampaian aspirasi harus tetap berpijak pada norma etik dan kebangsaan.
"Saya menghormati sepenuhnya para senior dan rekan seperjuangan di Forum Purnawirawan TNI. Mereka telah berjuang untuk bangsa ini. Namun, demokrasi itu tumbuh melalui budaya saling menghormati. Aspirasi atau kekhawatiran boleh disampaikan, tapi harus dengan cara yang sejuk dan terukur," ujar Saurip.
Ia juga menilai bahwa menyerang pemerintah secara terbuka, terlebih ketika pemimpin sudah memperoleh mandat sah dari rakyat, berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi.
"Presiden dan Wakil Presiden adalah pemimpin terpilih lewat Pemilu. Mereka sah secara hukum dan moral. Maka kritik pun harus menghormati pilihan rakyat," tegasnya.
Kritik Tidak Keliru, Tapi Harus Terukur
Menurut Saurip, kritik para purnawirawan tidak bisa langsung disebut salah. Namun cara penyampaiannya harus dikaji ulang. Ia mengingatkan bahwa di era digital, setiap ucapan bisa menjadi konsumsi publik luas dan berdampak besar terhadap stabilitas nasional.
"Saya tidak mengatakan mereka keliru. Tapi, mari kita renungkan: apakah ini bentuk komunikasi terbaik? Demokrasi itu menghargai kritik, tapi bentuk dan momennya penting. Kalau tidak bijak, justru bisa menimbulkan mispersepsi," ujarnya.
Soal UUD 1945 dan Permintaan Copot Wapres
Forum tersebut juga menyuarakan ide untuk kembali ke UUD 1945 asli dan permintaan pencopotan Wakil Presiden. Menanggapi hal itu, Saurip mengingatkan bahwa konstitusi bukan dokumen statis, melainkan harus mampu menjawab kebutuhan zaman.
"UUD 1945 yang asli itu sangat ringkas dan belum lengkap. Konstitusi sekarang memang belum sempurna, tapi sudah mengakomodasi prinsip demokrasi modern, HAM, dan sistem checks and balances," jelasnya.
Mengenai usulan pencopotan Wakil Presiden, ia menilai itu sebagai langkah yang tidak sejalan dengan prinsip pemilu langsung.
"Wapres itu bagian dari mandat rakyat. Mengusulkan pencopotan secara terbuka sama saja dengan menolak hasil Pemilu. Itu bukan semangat demokrasi," tegasnya.
IKN adalah Janji Politik, Bukan Sekadar Proyek
Saurip juga menanggapi penolakan terhadap proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diangkat dalam pernyataan Forum. Ia menilai bahwa sebagai bagian dari janji kampanye Presiden Prabowo, pembangunan IKN harus dihormati dan dikawal bersama.
"IKN adalah janji politik yang merupakan bagian dari kontrak sosial pemimpin dengan rakyat. Kalau kita menyuruh Presiden meninggalkan janjinya, sama saja menyarankan beliau mengingkari kepercayaan publik," tegasnya.
Presiden Prabowo Dinilai Tunjukkan Kedewasaan Politik
Saat ditanya soal sikap Presiden Prabowo yang tidak memberikan respons emosional terhadap kritik tersebut, Saurip menyatakan bahwa hal itu mencerminkan kepemimpinan yang tenang dan dewasa.
"Itu sangat bijak. Beliau tidak reaktif, tapi tetap mencatat. Pemimpin seperti ini yang kita butuhkan: tenang, tegas, dan penuh tanggung jawab," ujarnya.
Pesan: Menjadi Purnawirawan Adalah Kehormatan, Bukan Alasan untuk Gaduh
Menutup wawancara, Saurip Kadi mengingatkan pentingnya keteladanan dari para purnawirawan. Menurutnya, menjadi purnawirawan bukan berarti tidak lagi punya peran, tapi justru menjadi waktu untuk memberi arah tanpa menimbulkan kegaduhan.
"Bangsa ini milik bersama. Kalau kita ingin Indonesia besar karena demokrasi yang dewasa, maka jangan menjadi penumpang kapal yang mengguncang arah haluan hanya karena tak setuju. Sampaikan kritik, tapi dengan hormat," tutupnya.
Wawancara ini menampilkan suara yang menyejukkan di tengah riuhnya perdebatan politik dari kalangan elite militer purnawirawan.
Mayjen (Purn) Saurip Kadi memberikan pandangan jernih bahwa kritik memang perlu, namun etika, waktu, dan bentuk penyampaiannya harus disesuaikan dengan semangat demokrasi yang matang.*
MEDAN Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) terus menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui berbagai inovasi pembia
EKONOMI
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (22/4/2026). IHSG turun 17,77 poin atau 0,24 persen ke
EKONOMI
JAKARTA PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI resmi menuntaskan pengembalian seluruh dana milik umat Gereja Katolik Paroki St.
EKONOMI
TANJUNG PINANG PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) terus mempercepat pengembangan proyek migas Lapangan Manpatu. Terbaru, perusahaan sukses
EKONOMI
JAKARTA Menyambut peringatan Hari Bumi 2026 yang jatuh setiap 22 April, PT Pertamina EP (PEP) Sangatta Field menggelar aksi penanaman po
NASIONAL
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut kasus dugaan suap proyek jalur kereta di Kementerian Perhubungan (Kemenhub). T
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan adanya permintaan ekspor pupuk urea dari empat negara di tengah dinamika pasok
EKONOMI
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti lemahnya pengawasan dalam sejumlah proyek infrastruktur nasional. Ia menyebut, kur
EKONOMI
JAKARTA Aksi unjuk rasa mahasiswa dan elemen masyarakat di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur berujung ricuh. Menanggapi hal itu, Part
POLITIK
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusulkan pembatasan masa jabatan ketua umum partai politik maksimal dua periode. Usulan ini
POLITIK