BREAKING NEWS
Sabtu, 20 Juni 2026

Ketika Negarawan Gagal Menjaga Lidah di Negeri Majemuk

BITV Admin - Minggu, 19 April 2026 15:31 WIB
Ketika Negarawan Gagal Menjaga Lidah di Negeri Majemuk
Ruben Cornelius Siagian, seorang peneliti yang sekaligus aktif dalam berbagai organisasi yang membentuk kapasitas kepemimpinan dan kepekaan sosialnya. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Ruben Cornelius Siagian

DI republik yang dibangun di atas luka sejarah, kata-kata seorang tokoh bangsa tidak pernah netral. Ia bisa menenangkan, tetapi juga bisa menyalakan bara.

Polemik ceramah Jusuf Kalla di Masjid UGM, yang kemudian berujung laporan polisi dan klarifikasi terbuka, bukan sekadar soal satu potongan video yang viral.

Baca Juga:

Peristiwa ini telah berkembang menjadi ujian moral, yaitu apakah seorang mantan wakil presiden masih berbicara sebagai pemersatu bangsa, atau justru tergelincir menjadi elite yang merasa pengalaman pribadinya cukup untuk menghalalkan simplifikasi atas iman orang lain.

Laporan atas JK memang muncul setelah ceramahnya dipersoalkan, dan JK kemudian menyatakan bahwa ceramah itu bertujuan menjelaskan konflik Ambon dan Poso dalam kerangka perdamaian.

Ia juga menyebut video yang beredar telah dipotong dari ceramah yang lebih panjang. Itu adalah konteks faktual yang penting.

Tetapi konteks tidak otomatis membebaskan seseorang dari tanggung jawab atas pilihan kata, apalagi bila kata-kata itu menyentuh wilayah yang paling sensitif dalam masyarakat majemuk, yaitu keyakinan agama.

Masalah paling besar dalam pernyataan JK bukan terutama pada niatnya, melainkan pada watak berpikir yang tampak di balik pembelaannya.

Ia berkali-kali menumpukan legitimasi pada pengalaman, bahwa ia ada di lokasi konflik, ia mengambil risiko, ia terlibat dalam perdamaian. Semua itu benar dapat memberi bobot moral pada kesaksiannya.

Namun pengalaman, sebesar apa pun, tidak pernah otomatis menjadikan tafsir seseorang kebal kritik. Dalam ruang publik demokratis, jasa masa lalu bukan tameng untuk ucapan yang hari ini terasa problematis.

Justru karena JK pernah berada di jantung penyelesaian konflik, standar kehati-hatian bahasanya semestinya lebih tinggi, bukan lebih longgar.

Tokoh bangsa seharusnya paham bahwa memori konflik komunal bukan barang demonstrasi, melainkan luka kolektif yang harus disentuh dengan presisi, empati, dan disiplin bahasa.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gubernur DKI Pramono Anung Akui Pernah Nyanyikan Lagu “Erika” Saat Kuliah di ITB, Ini Penjelasannya
Megawati: Lemhannas Bukan Hanya Sekadar Lembaga Sertifikasi Pemimpin
Prabowo Sebut Ketua DPRD Se-Indonesia sebagai Patriot
Tentara Prancis Tewas dalam Insiden UNIFIL di Lebanon, Hizbullah Bantah Terlibat
Jangan Disamakan! Ini Perbedaan Israel dan Bani Israil dalam Sejarah dan Islam
Prabowo, Polymath Man, dan Jalur Strategis Indonesia
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru