"Permasalahannya, masyarakat Indonesia masih belum begitu melek terhadap premium content. Mereka lebih memilih informasi cepat yang bisa diakses dengan satu jempol," tambah Andry.
Dampak pada Demokrasi dan Literasi Publik
Menurut Andry, pola konsumsi informasi yang instan berisiko menurunkan kualitas demokrasi. Ketika informasi dikonsumsi secara dangkal, ruang untuk disinformasi dan berita menyesatkan semakin terbuka lebar.
Peran Pemerintah Diperlukan
Sebagai solusi, Andry menekankan pentingnya peran aktif pemerintah dalam menyelamatkan media berkualitas di Indonesia. Mulai dari kebijakan insentif, perlindungan terhadap bisnis media, hingga edukasi publik soal pentingnya jurnalisme yang kredibel.
"Pemerintah perlu hadir untuk mengembalikan kepercayaan dan minat masyarakat terhadap jurnalisme berkualitas. Karena jika media hancur, yang terancam bukan hanya informasi, tetapi demokrasi itu sendiri," tutupnya.*