"Kalau PSI mau jadi partai masa depan, ia harus keluar dari bayang-bayang Jokowi dan membangun struktur yang memungkinkan suara rakyat benar-benar didengar. Bukan sekadar suara elite yang dikemas secara digital," tegas Shohibul.
Shohibul menutup dengan peringatan bahwa demokrasi Indonesia saat ini berada di titik persimpangan yang rawan. Dengan 75% kekayaan nasional dikuasai oleh 1% populasi, ia menilai institusi politik sangat rentan terhadap kooptasi oleh oligarki.
"Kalau PSI hanya jadi kendaraan personalistik, ia tak akan beda jauh dari partai-partai lama yang kita kritik selama ini. Tapi kalau ia berani membangun etika deliberatif dan akuntabilitas internal, PSI bisa jadi prototype politik baru yang progresif, inklusif, dan berkelanjutan," pungkasnya.*