BREAKING NEWS
Minggu, 22 Februari 2026

Bukan Sekadar Polusi: PLTU Batu Bara Sebalang Diduga Picu Lonjakan ISPA dan Kanker

Ahmad Yani Setiawan - Senin, 20 Oktober 2025 22:33 WIB
Bukan Sekadar Polusi: PLTU Batu Bara Sebalang Diduga Picu Lonjakan ISPA dan Kanker
Salah satu potret nyata dari ancaman ini adalah PLTU Sebalang di Provinsi Lampung, yang kini menuai sorotan tajam dari masyarakat dan aktivis lingkungan.(Foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Menurut laporan penelitian lingkungan dan data kesehatan, paparan polutan dari PLTU batu bara diperkirakan menyebabkan hingga 6.500 kematian dini setiap tahun di Indonesia. Jika pembangunan PLTU terus berlanjut, angka tersebut bisa melonjak menjadi 20.000 lebih kematian dini per tahun.

Studi dari Universitas Harvard menunjukkan, setiap kenaikan 1 µg/m³ PM2.5 dari PLTU meningkatkan risiko kematian sebesar 1,12 persen—dua kali lipat dari rata-rata polusi PM2.5 dari sumber lainnya.

Paparan jangka panjang terhadap PM2.5 juga terbukti memicu kanker paru-paru, stroke, dan penyakit jantung iskemik. Kelompok paling terdampak adalah anak-anak, ibu hamil, dan lansia, yang memiliki sistem kekebalan lebih rentan terhadap polusi udara.

Para pegiat lingkungan dan masyarakat sipil menuntut pemerintah mengambil langkah konkret. Beberapa rekomendasi mendesak yang mereka ajukan meliputi:

Penerapan ketat standar emisi bagi seluruh PLTU, termasuk pemasangan teknologi desulfurisasi dan sistem kontrol polusi modern.

Evaluasi komprehensif terhadap dampak lingkungan dan kesehatan dari setiap PLTU yang beroperasi.

Percepatan transisi energi bersih, termasuk mendorong investasi di sektor energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan hidro.

Moratorium pembangunan PLTU baru, dan rencana penghentian bertahap PLTU eksisting yang paling mencemari.

PLTU Sebalang hanyalah satu dari puluhan PLTU batu bara di Indonesia yang menyisakan jejak kerusakan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Meski menjadi bagian dari strategi pemenuhan kebutuhan energi, pendekatan berbasis batu bara terbukti menyisakan biaya sosial dan ekologis yang sangat tinggi.

Kini, pilihan ada di tangan pemerintah dan masyarakat. Apakah kita akan terus menormalisasi polusi dan kematian dini sebagai bagian dari 'pembangunan'? Atau mulai beralih menuju masa depan energi yang bersih dan berkeadilan?

"Setiap suara, setiap aksi, bisa menjadi bagian dari solusi. Masa depan anak cucu kita tidak boleh dibayar dengan napas yang sesak dan laut yang mati."*

(M/006)

Editor
:
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru