ACEH UTARA — PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara resmi membebaskan kewajiban penggunaan barcode MyPertamina untuk pembelian BBM subsidi jenis Pertalite dan Solar selama masa tanggap darurat bencana di Aceh.
Kebijakan ini berlaku sejak 28 November hingga 11 Desember 2025, seiring upaya mempercepat layanan dan mengurai antrean akibat terganggunya mobilitas warga terdampak banjir dan longsor.
Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari surat BPH Migas setelah Gubernur Aceh mengajukan permohonan relaksasi.
"Kami berharap kebijakan ini dapat membantu masyarakat terdampak bencana. Namun kami mengimbau agar pembelian BBM dilakukan sesuai kebutuhan dan tidak menimbun," ujar Fahrougi dalam keterangan tertulis, Selasa, 2 Desember 2025.
Banjir besar yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh menyebabkan kerusakan fasilitas vital, termasuk SPBU.
Di Aceh Tamiang, enam SPBU mengalami kerusakan sarana, sementara tiga SPBU di Aceh Timur ikut terdampak dari total 12 yang masih beroperasi. Kondisi ini membuat distribusi BBM tersendat dan akses di sejumlah titik masih terputus.
Untuk memperlancar penyaluran, Pertamina bekerja sama dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah, termasuk memberikan suplai BBM bagi keperluan alat berat serta kendaraan tanggap darurat.
Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh mencatat hingga Selasa dini hari, sebanyak 173 jiwa ditemukan meninggal dunia.
Bencana yang terjadi sejak 28 November itu telah berdampak pada 226 kecamatan, 3.310 gampong, serta merusak lebih dari 77 ribu rumah.
Selain itu, 152 ruas jalan terputus, ratusan fasilitas publik rusak, dan lebih dari 204 warga dilaporkan masih hilang.
Sementara operasi bantuan udara terus diperkuat.
Pertamina tetap menjamin pasokan avtur untuk helikopter dan pesawat Hercules yang digunakan dalam proses evakuasi dan distribusi logistik ke wilayah-wilayah yang masih terisolasi.*