PIDIE JAYA – Medan berat dan kerusakan infrastruktur menjadi hambatan utama dalam distribusi bantuan untuk korban banjir bandang di Pidie Jaya, Aceh.
Pada tahap awal evakuasi, relawan harus berjalan kaki hingga 45 menit sambil membawa logistik primer karena kendaraan tidak bisa melintasi jalur berlumpur dan jembatan yang terputus.
Vovo Kristanto, salah satu relawan dari Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, menjelaskan bahwa desa Dayah Husen menjadi titik awal evakuasi.
"Kondisi di lapangan sangat berat, banyak akses yang rusak dan jembatan putus. Jarak dari jalan utama ke lokasi memakan waktu sekitar 45 menit, dan kami memprioritaskan kebutuhan logistik yang paling mendesak," ujar Vovo, Minggu (21/12/2025).
Selain distribusi logistik, relawan juga memberikan layanan dukungan psikososial (trauma healing) terutama untuk anak-anak.
Posko kesehatan didirikan untuk menangani keluhan infeksi saluran pernapasan, infeksi kulit, dan jamur yang paling banyak dialami pengungsi.
Logistik yang disalurkan mencakup genset 2.000 watt, lampu darurat, kasur, selimut, pakaian, bahan makanan, dan obat-obatan ringan.
Bantuan ini dikirim ke 30 titik terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Lebih dari 90 relawan InJourney Airports dan InJourney Hospitality dikerahkan bersama TNI–Polri, BNPB, dan Basarnas untuk memastikan distribusi bantuan tepat sasaran.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menegaskan, "Bantuan ini diberikan cepat, tepat sasaran, dan terkoordinasi dengan baik.
Meski tidak sebanding dengan kerugian materiil dan trauma psikologis, kami berharap dapat meringankan beban para pengungsi."
Upaya evakuasi dan distribusi logistik ini menjadi bukti kerja sama lintas lembaga dan relawan untuk menghadapi bencana di Sumatera, terutama di wilayah yang aksesnya sangat terbatas.*