Sejumlah warga mengeluhkan pendataan penerima bantuan yang dinilai tidak adil dan tidak mencerminkan tingkat kerusakan yang dialami masyarakat akibat banjir pada Desember 2025 lalu.
Beberapa warga menyebut rumah mereka hanyut, rusak berat, hingga sawah hancur diterjang banjir.
Namun hingga kini, mereka mengaku belum menerima bantuan apa pun.
Sebaliknya, warga lain yang dinilai mengalami kerusakan lebih ringan justru telah menerima bantuan tunai sebesar Rp1,8 juta dari Kemensos.
"Pendataan yang dilakukan aparat desa kami anggap pilih-pilih. Yang diutamakan justru keluarga atau orang-orang dekat perangkat desa," ujar Leli Sumarny Rambe, warga Desa Sabungan Sipabangun yang mengaku rumah dan lahannya rusak akibat banjir.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lain yang enggan disebutkan namanya.
Ia mengatakan rumahnya rusak parah dan sawahnya gagal panen, tetapi namanya tidak tercantum dalam daftar penerima bantuan.
"Kami sudah mendatangi kantor kepala desa untuk mempertanyakan ini," katanya.
Menanggapi keberatan warga, aparat desa disebut meminta masyarakat bersabar.
"Jawaban dari desa hanya bilang sabar, itu rezeki masing-masing," ujar warga tersebut.
Kepala Desa Sabungan Sipabangun, menurut warga, menyampaikan bahwa persoalan ini akan dilaporkan ke pihak kecamatan.