Menteri Ketenagakerjaan Yassierli saat membuka kegiatan Penguatan Integritas dan Komitmen Pencegahan Gratifikasi dan Korupsi di Jakarta, Kamis (5/2). (foto: Biro Humas Kemnaker)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Langkah ini disampaikan Menteri KetenagakerjaanYassierli saat membuka kegiatan Penguatan Integritas dan Komitmen Pencegahan Gratifikasi dan Korupsi di Jakarta, Kamis (5/2).
Dalam arahannya, Yassierli menekankan bahwa penguatan integritas bukan sekadar slogan.
"Alhamdulillah saya melihat banyak pembenahan yang sudah dilakukan di masing-masing unit kerja, seperti digitalisasi, perbaikan SOP, dan regulasi," ujar Yassierli.
Ia menekankan bahwa pencegahan harus dibangun melalui sistem yang rapi, bukan hanya imbauan semata.
Menurut Menaker, integritas yang kuat berdampak langsung pada layanan publik yang lebih adil dan transparan.
Tata kelola yang bersih membantu pekerja dan pengusaha menjalankan hak dan kewajiban sesuai aturan tanpa praktik yang merugikan.
"Bagi publik, integritas berarti layanan yang lebih bisa diprediksi karena prosedur jelas, keputusan dapat dipertanggungjawabkan, dan risiko penyimpangan berkurang," kata Yassierli.
Menaker juga menekankan keterbukaan terhadap informasi potensi gratifikasi maupun korupsi.
"Keberanian menyampaikan informasi adalah fondasi penting untuk menjaga martabat institusi dan mencegah masalah membesar," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Gratifikasi dan Pelayanan Publik KPK, Arif Waluyo Widiarto, menekankan pentingnya memahami gratifikasi dan potensi pelanggaran korupsi.
Ia mengingatkan bahwa pejabat publik memegang amanah, bukan sarana mencari keuntungan pribadi.
Kegiatan ini dihadiri pejabat tinggi madya, pejabat tinggi pratama, seluruh pegawai Kemnaker, dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemnaker.
Dengan penguatan integritas ini, Kemnaker menegaskan arah pembenahan yang konsisten agar layanan publik makin dipercaya, keputusan makin akuntabel, dan upaya pencegahan berjalan sebelum pelanggaran terjadi.*