Rumah Arotona Gulo, atau Ama Mawar, di Desa Hiliofonaluo, Kecamatan Fanayama, nyaris ambruk setelah tanah di bawahnya hanyut terseret longsor. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Sejak saat itu, Ama Mawar menopang sisa bangunan dengan tiang-tiang kayu seadanya.
Tiap malam, ia terjaga, mendengar bunyi-bunyi kecil dari rumahnya yang nyaris roboh. Kekhawatiran terbesar adalah keselamatan anak-anaknya yang masih kecil, apalagi Ama Mawar sudah menjadi duda setelah istrinya meninggal.
"Malam-malam saya hanya bisa berdoa. Tak ada yang menjaga saat saya bekerja," kata Ama Mawar pelan.
Ia tak bisa membaca dan menulis, sehingga proses pengajuan bantuan pemerintah melalui proposal menjadi penghalang besar.
Harapan datang dari tetangga yang peduli, Ama Gracious, mantan anggota Bawaslu Nias Selatan dan mantan dosen Universitas Nias Raya.
Dengan inisiatifnya, Ama Gracious memotret kondisi rumah dan menyusun proposal permohonan bantuan bencana alam untuk Ama Mawar.
Kini, Ama Mawar hanya bisa menunggu. Ia berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan agar rumahnya dibangun kembali.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa bukan hanya rumahnya yang rusak parah. Banyak rumah lain di desa itu berada di atas tanah yang telah kehilangan pijakan, menunggu perhatian pemerintah.
Longsor di Hiliofonaluo tidak hanya memindahkan tanah. Ia juga memindahkan nasib warganya—menunjukkan betapa jarak antara bantuan dan mereka yang membutuhkan kadang selebar selembar kertas bernama proposal.*