DPD AMPI Apresiasi Respons Cepat Mangihut Sinaga dalam Menampung Aspirasi Warga Binjai
BINJAI DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kota Binjai memberikan apresiasi terhadap langkah cepat Anggota Komisi III DPR RI,
POLITIK
JAKARTA — Fenomena "hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah" kini dinilai bukan sekadar persepsi publik, melainkan gejala nyata dalam praktik birokrasi dan politik di Indonesia.
Maraknya pernyataan keras pejabat yang disertai ultimatum seringkali tidak diikuti tindakan nyata atau sanksi tegas, menimbulkan ketidakpercayaan publik.
Pengamat politik Samuel F. Silaen menilai pola semacam ini mencerminkan retorika kosong dalam tata kelola pemerintahan. Menurutnya, banyak pejabat terdengar tegas di ruang publik, namun pernyataan tersebut jarang diwujudkan dalam bentuk tindakan hukum.Baca Juga:
"Ketika pejabat hanya mengeluarkan ultimatum kepada bawahan tanpa eksekusi hukuman yang jelas, itu merupakan bentuk klasik dari retorika kosong dalam birokrasi dan panggung politik. Kata-kata yang terdengar tegas tidak pernah bertransformasi menjadi tindakan yang benar-benar koersif," ujar Silaen kepada awak media di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Silaen menjelaskan praktik semacam ini dapat memicu pembiaran terstruktur dan sistematis, yang berpotensi menjerumuskan elite kekuasaan ke dalam kerusakan sistemik.
Fenomena yang ia sebut "sindrom macan ompong" muncul ketika pejabat atau institusi negara berulang kali melontarkan ancaman atau peringatan, namun tidak menindaklanjutinya.
"Publik cepat membaca pola tersebut. Akibatnya, wibawa negara atau institusi merosot tajam. Pernyataan pejabat tidak lagi dianggap instrumen hukum yang mengikat, melainkan kebisingan birokrasi," tambahnya.
Lebih jauh, Silaen menyoroti dampak pada perilaku pelanggar.
Jika risiko dijatuhkannya sanksi kecil atau nihil, pelanggaran akan dianggap sebagai biaya operasional yang wajar, sehingga menormalisasi praktik pelanggaran hingga menjadi budaya.
Ia juga menekankan, tidak sedikit pernyataan keras pejabat sebenarnya untuk konsumsi media dan menjaga citra publik.
"Ini sering menjadi strategi komunikasi politik agar pejabat terlihat tegas, namun saat masalah muncul kembali, mereka memiliki alibi menghindari tanggung jawab," jelas Silaen.
Pengamat itu menegaskan, ketegasan pejabat seharusnya diukur dari kepastian hukum yang ditegakkan, bukan dari kerasnya kata-kata di depan publik.
Tanpa tindakan nyata, semua peringatan hanyalah retorika belaka.*
(ad)
BINJAI DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kota Binjai memberikan apresiasi terhadap langkah cepat Anggota Komisi III DPR RI,
POLITIK
SOLO Rismon Sianipar, yang dikenal sebagai kubu Roy Suryo CS dalam kasus dugaan ijazah palsu, mendatangi kediaman Presiden Joko Widodo (J
POLITIK
JAKARTA Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa soliditas dan sinergitas menjadi kunci keberhasilan Operasi Ketupat 2026,
PEMERINTAHAN
JAKARTA Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional cukup dan aman untuk 2
EKONOMI
JAKARTA Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia teta
EKONOMI
NIAS UTARA Lembaga Pengawasan Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LPKPK) wilayah Kepulauan Nias melaporkan seorang Kepala Bidang (Kabid)
POLITIK
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk segera membangun Pe
NASIONAL
JAKARTA Jaksa Agung ST Burhanuddin menegaskan, jajaran Kejaksaan tidak akan memberi toleransi bagi oknum yang menyalahgunakan wewenang a
NASIONAL
PADANGSIDIMPUAN Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Padangsidimpuan menggelar operasi penertiban knalpot blong, Kamis (12/3/2026), di
NASIONAL
JAKARTA Ratusan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) mendatangi Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (12
HUKUM DAN KRIMINAL