JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya untuk mempercepat pembangunanperumahan di Indonesia.
Salah satu langkah strategis yang ditekankan adalah memanfaatkan lahan milik badan usaha milik negara (BUMN) untuk mendukung program penyediaan rumah bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah.
Dalam acara Pencanangan Pembangunan Hunian yang digelar di Stasiun Manggarai, Jakarta, pada Senin (16/3/2026), Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perumahan, Hashim Djojohadikusumo, menyampaikan pesan langsung dari Presiden Prabowo.
"Pak Prabowo sudah katakan beberapa kali bahwa tanah milik BUMN adalah tanah milik rakyat Indonesia, sehingga tanah itu tidak boleh dijual dengan harga pasar. Itu haram. Itu khusus untuk subsidi rakyat, untuk perumahan," ujar Hashim, menegaskan arahan Presiden Prabowo.
Hashim menjelaskan bahwa tanah-tanah milik BUMN merupakan aset negara yang sesungguhnya diperuntukkan bagi kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan komersial.
Beliau menekankan bahwa ada kecenderungan sebagian pihak yang mencoba memanfaatkan nilai komersial lahan negara untuk keuntungan pribadi, yang menurutnya bertentangan dengan tujuan pemerintah untuk menyediakan rumah yang terjangkau bagi masyarakat.
"Jika lahanBUMN dijual dengan harga pasar, maka tujuan utama kita—yaitu menyediakan perumahan yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah—akan semakin sulit tercapai," tambah Hashim.
Karena itu, tanah-tanah milik BUMN harus diprioritaskan untuk program perumahan rakyat dan dimanfaatkan untuk mendukung Program 3 Juta Rumah yang sudah menjadi salah satu program strategis pemerintah.
Hashim optimis, dengan adanya program ini, Indonesia akan mampu mendorong laju pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 8% atau lebih.
Hashim menjelaskan lebih lanjut bahwa sektor perumahan memiliki efek berganda yang besar terhadap perekonomian.
Selain menyediakan tempat tinggal yang layak bagi masyarakat, pembangunanperumahan akan mendorong pertumbuhan berbagai sektor industri terkait, mulai dari industri bahan bangunan hingga sektor logistik dan tenaga kerja.
"Anak-anak yang belajar makroekonomi pun tahu bahwa begitu banyak sektor yang akan bergerak. Semen, mebel, kabel listrik, besi, kayu, semuanya saling terkait. Program perumahan ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tapi juga menggerakkan perekonomian kita," ujar Hashim.