Iran Sebut Berhasil Tembak Jatuh Jet F-35 AS, Foto Puing Picu Kontroversi
JAKARTA Iran mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur F35 milik Amerika Serikat (AS) di wilayah tengah negara tersebut pada Jumat,
INTERNASIONAL
JAKARTA – Meskipun industri film Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, persoalan struktural dalam ekosistem perfilman nasional tetap menjadi tantangan besar yang belum terpecahkan.
Budi Mulyawan, Pendiri Jaya Center Foundation dan Pembina Jakarta Millennial Film Festival (JMFF) 2026, menilai bahwa industri film Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang "tumbuh tanpa fondasi yang kuat."
"Industri kita berkembang pesat, tetapi tanpa penataan yang terstruktur dan berkelanjutan. Ini akan menjadi masalah besar di masa depan," ungkap Budi dalam diskusi yang digelar pada Kamis (2/4/2026).Baca Juga:
Budi menegaskan bahwa film Indonesia harus lebih dari sekadar hiburan. Menurutnya, film seharusnya menjadi medium multidimensi yang mengemban peran penting dalam pendidikan publik, promosi budaya, komunikasi sosial-politik, serta penggerak ekonomi kreatif nasional.
"Film itu bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan. Ia bisa menjadi alat pendidikan, memperkenalkan identitas bangsa, bahkan menggerakkan sektor ekonomi dan pariwisata. Jika hanya berhenti pada hiburan, kita sedang menyia-nyiakan potensi besar yang dimiliki oleh film," kata Budi.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa potensi besar ini belum didukung oleh sistem yang solid. Meskipun Indonesia memiliki Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, yang mengatur berbagai aspek industri film, praktik implementasi regulasi tersebut dinilai masih lemah.
Pembajakan yang masih marak, distribusi film yang belum merata, serta kurangnya perlindungan bagi pelaku industri kecil menjadi masalah utama.
"Undang-undangnya sudah ada, tetapi implementasinya lemah. Pembajakan masih menggerus ekonomi para kreator dan distribusi film yang terbatas membatasi akses masyarakat terhadap film nasional," ujar Budi.
Budi juga mengkritisi peran Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang dinilai belum cukup maksimal dalam mendorong kemajuan industri perfilman. Ia berharap Kongres ke-4 BPI yang akan digelar pada April 2026 dapat menghasilkan kepemimpinan baru yang lebih berani dan visioner dalam membawa perubahan positif.
"Industri film kita membutuhkan arah yang jelas dan bukan hanya rutinitas kelembagaan. Keberanian untuk membenahi dari hulu ke hilir sangat dibutuhkan," tegasnya.
Selain itu, Budi juga menyoroti beberapa masalah klasik yang masih membayangi industri film nasional, termasuk dominasi film asing yang menguasai pasar, sementara kualitas produksi dan cerita film Indonesia masih belum konsisten.
Ia juga menyebutkan, jumlah layar bioskop di Indonesia yang hanya sekitar 2.500 layar jauh dari kebutuhan ideal sekitar 10.000 layar.
"Kita negara besar, tetapi akses terhadap film nasional masih sangat terbatas. Ini bukan hanya soal industri, tapi soal keadilan budaya," ujar Budi, menambahkan bahwa pembatasan akses ini berdampak pada pegiat film Indonesia yang kesulitan mendapatkan pendanaan dan distribusi yang layak.
Sebagai kontribusi nyata dalam membangun ekosistem perfilman yang sehat, Jaya Center Foundation kembali menggelar Jakarta Millennial Film Festival (JMFF) 2026.
Festival yang akan berlangsung dari April hingga Agustus 2026 ini diharapkan menjadi ruang inklusif bagi talenta-talenta baru dalam dunia perfilman, dengan rangkaian kegiatan workshop dan kompetisi film pendek.
Tema festival tahun ini, "Millennial dan Bela Negara," diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran generasi muda akan peran film dalam membentuk opini publik dan memperjuangkan identitas bangsa.
Budi berharap festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga bisa menggerakkan semangat perjuangan dan bela negara dalam konteks kekinian.
"Film adalah instrumen perjuangan modern yang mampu membentuk karakter dan opini bangsa. Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku yang sadar bahwa film bisa menjadi bagian dari bela negara," ujarnya.
Dengan meningkatnya pangsa pasar penonton film Indonesia yang mencapai 61 persen, Budi Mulyawan mengingatkan agar euforia tersebut tidak menutupi persoalan struktural yang masih ada.
Ia berharap industri film Indonesia tidak hanya menjadi pasar besar bagi film asing, tetapi mampu bersaing di pasar global dengan dukungan sistem yang lebih baik.*
(dh)
JAKARTA Iran mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur F35 milik Amerika Serikat (AS) di wilayah tengah negara tersebut pada Jumat,
INTERNASIONAL
JAKARTA Indonesia semakin memperkuat posisinya dalam diplomasi energi global melalui kerja sama strategis dengan Korea Selatan, khususny
EKONOMI
BATAM Kepala Imigrasi Kota Batam, Hajar Aswad, dicopot dari jabatannya setelah terjerat dalam kasus dugaan pungutan liar (pungli) yang m
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa hubungan industrial di Indonesia harus naik kelas agar pekerja ti
EKONOMI
JAKARTA Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah Indonesia atas kesediaannya un
INTERNASIONAL
BANTUL Kecelakaan maut terjadi di Jalan Raya Wates, Bantul, tepatnya di Argorejo, Sedayu, pada Jumat (3/4/2026). Sebuah mobil Toyota Ava
PERISTIWA
TANJUNG JABUNG TIMUR Proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Suka Maju, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, kini telah
PENDIDIKAN
JAKARTA Pemerintah terus menggenjot percepatan distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai wilayah Indonesia, dengan fokus
PEMERINTAHAN
JAKARTA Kasus penyerangan terhadap aktivis lingkungan kembali terjadi. Kali ini, Muhammad Rosidi, seorang aktivis asal Bangka Selatan, P
POLITIK
JAKARTA Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menggelar pertemuan dengan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujer
POLITIK