BREAKING NEWS
Kamis, 09 April 2026

Samuel F. Silaen Soroti Lemahnya Pengawasan Pemerintah Terkait Keracunan MBG: Ini Bukan Kejadian Sepele!

gusWedha - Minggu, 05 April 2026 15:16 WIB
Samuel F. Silaen Soroti Lemahnya Pengawasan Pemerintah Terkait Keracunan MBG: Ini Bukan Kejadian Sepele!
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F Silaen. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F Silaen, melontarkan kritik tajam terhadap penanganan insiden keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang dialami oleh puluhan siswa di Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Insiden ini menyebabkan sejumlah siswa mengeluhkan gejala mual, muntah, diare, hingga demam setelah mengonsumsi makanan dalam program unggulan pemerintah tersebut.

Silaen menegaskan bahwa kejadian ini bukan sekadar kelalaian biasa, melainkan menunjukkan lemahnya sistem pengawasan yang ada.

Baca Juga:

Ia menilai bahwa meskipun insiden seperti ini sudah berulangkali terjadi, pemerintah justru tampak tidak sigap dalam menanggulanginya.

"Ini bukan kejadian sepele. Kalau puluhan siswa bisa keracunan dalam satu waktu setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis program unggulan pemerintah, berarti ada yang sangat keliru dalam sistem pengawasan dan kontrol kualitasnya," ujar Silaen, Minggu (5/4/2026).

Silaen menyoroti bahwa pemerintah daerah dan instansi terkait tidak seharusnya hanya bersikap reaktif, melakukan pengecekan setelah kejadian.

Ia menegaskan bahwa pengawasan terhadap kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa harus dilakukan secara ketat dan menyeluruh sebelum didistribusikan.

"Jangan setiap ada kejadian baru sibuk melakukan pengecekan dan lain sebagainya, keledai saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama, padahal keledai itu binatang. Pertanyaannya, pengawasan sebelum makanan itu dibagikan ke anak-anak ke mana? Ini menyangkut keselamatan generasi muda," lanjut Silaen dengan tegas.

Silaen juga memperingatkan bahwa meskipun Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bertujuan untuk meningkatkan gizi siswa, namun implementasinya harus mengedepankan standar keamanan pangan yang ketat.

Tanpa adanya pengelolaan yang baik, ia khawatir program ini malah berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang bagi siswa, termasuk risiko kanker.

"Programnya bagus, tapi implementasinya tidak boleh asal jalan, ngebet kejar cuan doang. Kalau tidak ada standar higienitas, distribusi yang terkontrol, dan audit rutin, maka program ini bisa berubah menjadi ancaman," tegas Silaen.

Lebih lanjut, Silaen mendesak agar dilakukan investigasi yang transparan dan akuntabel terkait insiden keracunan ini.

Ia meminta agar pihak-pihak yang terlibat dalam rantai penyediaan makanan kepada siswa diungkap dan diberikan sanksi tegas, jika terbukti ada kelalaian yang menyebabkan keracunan tersebut.

"Harus ada yang bertanggung jawab, agar ada efek jera. Jangan berhenti di evaluasi saja. Kalau terbukti ada kelalaian, harus ada sanksi tegas. Ini menyangkut nyawa dan kesehatan anak-anak," ujar Silaen.

Sementara itu, Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyampaikan bahwa pihaknya masih mendalami penyebab keracunan yang dialami oleh 72 siswa setelah mengonsumsi menu spageti dalam program MBG.

Sejumlah siswa kini masih menjalani perawatan di rumah sakit di Jakarta Timur.

"Ya sudah dong (dicek), kan ada Kepala SPPG, Korwil, dan Kareg (Kepala Regional). Saya juga akan cek," ujar Nanik, merujuk pada langkah-langkah yang tengah diambil oleh pihak berwenang untuk menyelidiki kasus tersebut.

Namun, bagi Silaen, langkah-langkah yang dilakukan pemerintah masih dianggap belum cukup konkret.

Ia menekankan bahwa publik membutuhkan jaminan keamanan pangan yang lebih tegas dari pemerintah, bukan hanya klarifikasi setelah kejadian.

"Publik butuh jaminan keamanan pangan yang diberikan pemerintah lewat SPPG, bukan sekadar klarifikasi setelah kejadian. Negara harus hadir sebelum risiko itu terjadi, bukan sesudahnya," pungkasnya.*


(ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Tawuran Belawan Kembali Memanas, Wali Kota Rico Waas: Penanganan Konflik Tidak Bisa Instan, Butuh Strategi Jangka Panjang
‘Aisyiyah Aceh Peduli’ Salurkan Bantuan dan Bangun Pendidikan bagi Korban Bencana
Kasus Keracunan MBG Tembus 4.755 Orang dalam 2 Bulan di 2026, FSGI: Itu Bukan Lagi Kesalahan Kecil!
Menlu Sugiono Tuntut Investigasi Menyeluruh atas Serangan terhadap Prajurit TNI di Lebanon
Tanjungbalai Gencar Berkolaborasi Atasi Pencemaran Lingkungan, Wali Kota Ajak Pengusaha dan Masyarakat Terlibat
Rico Waas Hadiri Halal Bihalal PKS Kota Medan, Ajak Tinggalkan Sekat Politik dan Perkuat Sinergi untuk Pembangunan Kota
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru