Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan mendadak di Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, pada, Kamis, 26 Maret 2026. (foto: tangkapan layar yt setpres)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
JAKARTA — Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai "inflasipengamat" di tengah derasnya arus opini publik di ruang digital.
Ia menilai, semakin banyak pihak yang tampil sebagai pengamat, namun tidak semuanya memiliki latar belakang keilmuan yang relevan dan berbasis data akurat.
"Sekarang ini ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi banyak sekali pengamat," kata Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 10 Maret 2026.
Teddy menyebut sejumlah pihak kerap memberikan analisis di berbagai bidang, mulai dari isu beras, militer, hingga hubungan luar negeri, namun tidak selalu didukung data yang valid.
"Ada pengamat beras tapi dia background-nya bukan di situ, ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri, dan datanya tidak sesuai fakta," ujarnya.
Menurut Teddy, sebagian figur yang kerap muncul di ruang publik tersebut bukan hal baru, melainkan sudah aktif sejak sebelum masa pemerintahan PresidenPrabowo Subianto.
Ia menilai kelompok tersebut turut membentuk opini publik sejak lama, termasuk sebelum Prabowo menjabat sebagai presiden.
Meski demikian, Teddy menegaskan bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap PresidenPrabowo tetap tinggi.
Ia menyebut jutaan warga tetap memberikan dukungan dibandingkan narasi yang berkembang dari sebagian pengamat.
"Tapi faktanya lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo," ujarnya.
Teddy juga mengingatkan agar kritik dan pandangan publik tetap disampaikan secara konstruktif dan tidak menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.
"Boleh berbeda pendapat, silakan beri kritik, tapi jangan sampai membuat orang cemas terhadap negeri ini," kata dia.