BREAKING NEWS
Selasa, 02 Juni 2026

SBY: Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Indonesia Tak Bisa Sekadar Meniru Negara Maju

Raman Krisna - Selasa, 02 Juni 2026 13:41 WIB
SBY: Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Indonesia Tak Bisa Sekadar Meniru Negara Maju
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (foto: Susilo Bambang Yudhoyono/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menilai kondisi global saat ini berada dalam situasi yang tidak normal.

Menurut dia, berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan menuntut Indonesia memiliki strategi pembangunan sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan SBY saat membuka acara PROFICIENT 2026 di Perbanas Institute, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.

Baca Juga:

"Dunia saat ini tidak berada dalam kondisi normal. Kita semua mengetahuinya. Kita hidup di tengah berbagai krisis yang saling tumpang tindih," kata SBY.

Menurut SBY, dunia saat ini menghadapi tantangan multidimensi yang mencakup perubahan iklim, fragmentasi ekonomi global, persaingan teknologi, hingga tekanan di sektor keuangan.

Kondisi tersebut tidak hanya dirasakan negara maju, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa ekonomi global kini semakin dipengaruhi faktor geopolitik.

Perdagangan internasional tidak lagi semata-mata didasarkan pada efisiensi ekonomi, melainkan juga kepentingan politik dan strategi antarnegara.

Di sisi lain, perkembangan teknologi yang pesat telah menjadi pendorong produktivitas sekaligus arena persaingan global yang semakin ketat.

SBY juga menyoroti meningkatnya tekanan fiskal yang dihadapi banyak negara berkembang.

Menurut dia, beban pembayaran utang terus meningkat di tengah kebutuhan pembiayaan yang besar untuk sektor kesehatan, pendidikan, pembangunan infrastruktur, transisi energi, serta adaptasi terhadap perubahan iklim.

Dalam menghadapi situasi tersebut, SBY menegaskan Indonesia tidak bisa sekadar meniru model pembangunan negara maju.

Ia menilai strategi pembangunan nasional harus dirancang berdasarkan kebutuhan dan kondisi domestik agar mampu menjawab tantangan yang dihadapi.

"Dalam situasi global seperti ini, negara-negara berkembang seperti Indonesia harus bersikap bijaksana. Kita tidak bisa begitu saja meniru jalur yang ditempuh negara maju. Kita harus merancang strategi pembangunan kita sendiri," ujarnya.

SBY mengatakan terdapat tiga pilar utama yang harus menjadi fondasi pembangunan Indonesia, yakni kebijakan, implementasi, dan pembiayaan.

Pilar pertama adalah kebijakan yang mampu memberikan arah pembangunan secara jelas, konsisten, dan terintegrasi.

Menurut dia, kebijakan yang kredibel harus didukung tata kelola pemerintahan yang baik, transparansi, serta supremasi hukum.

Pilar kedua adalah implementasi yang efektif. SBY menekankan bahwa pelaksanaan kebijakan harus dilakukan secara profesional dan tidak terjebak kepentingan politik jangka pendek.

"Pemerintah juga harus mampu bergerak cepat karena pasar bereaksi secara instan terhadap berbagai perubahan," katanya.

Sementara pilar ketiga adalah pembiayaan yang berkelanjutan.

Menurut SBY, seluruh agenda pembangunan nasional membutuhkan investasi yang sangat besar, mulai dari pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, layanan kesehatan, pendidikan, konektivitas digital, hingga transisi energi.

SBY menekankan bahwa pembangunan Indonesia harus tetap terbuka terhadap dunia internasional, namun tidak boleh mengabaikan kepentingan nasional.

Menurut dia, pembangunan yang ideal adalah pembangunan yang mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, tanggung jawab sosial, keberlanjutan lingkungan, serta pemanfaatan teknologi yang berpusat pada manusia.

"Terbuka terhadap dunia, tetapi berakar pada kepentingan nasional. Berorientasi pada pasar, tetapi tetap bertanggung jawab secara sosial. Berorientasi pada pertumbuhan, tetapi berkelanjutan secara lingkungan. Maju secara digital, tetapi tetap berpusat pada manusia. Inilah esensi pembangunan berkelanjutan bagi Indonesia," ujar SBY.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks, Indonesia dituntut memiliki arah pembangunan yang jelas, adaptif, dan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi serta kepentingan jangka panjang bangsa.*


(km/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Respons Kritik Eks Wamenlu, Seskab Teddy Pamer 7 Capaian Hasil Kunjungan Luar Negeri Prabowo
Influencer Sebut Rupiah Melemah Untungkan RI, Ferry Latuhihin: Ini Belajarnya Gimana?
SPPG Dipelesetkan Jadi “Satuan Penjilat Prabowo-Gibran”, Hasan Nasbi: Ini Kan Sok Paten, Nalarnya Didiskon Juga Ini
Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.882, Ini Penyebabnya
Emas Antam Melemah ke Rp 2,77 Juta per Gram, Ini Penyebabnya
Kolaborasi Lintas Sektor Digenjot untuk Percepatan Pembangunan 39 Ribu Huntap di Sumatera
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru