BREAKING NEWS
Selasa, 30 Juni 2026

Dulu Menolak, Pendiri Greenpeace Kini Berbalik Dukung Energi Nuklir: Relevankah bagi Masa Depan Bangka Belitung?

gusWedha - Selasa, 30 Juni 2026 07:39 WIB
Dulu Menolak, Pendiri Greenpeace Kini Berbalik Dukung Energi Nuklir: Relevankah bagi Masa Depan Bangka Belitung?
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Selama bertahun-tahun, Patrick Moore dikenal sebagai salah satu tokoh lingkungan hidup paling berpengaruh di dunia.

Ia merupakan salah satu pendiri Greenpeace dan pernah berada di garis depan berbagai kampanye lingkungan, mulai dari penolakan uji coba nuklir hingga perlindungan mamalia laut.

Namun, pandangannya berubah.

Baca Juga:

Setelah mempelajari perkembangan teknologi dan kebutuhan energi dunia, Moore justru menjadi pendukung energi nuklir.

Perubahan sikap ini menjadi salah satu kisah yang paling sering dibahas dalam perdebatan mengenai masa depan energi bersih.

Moore mengaku perubahan pandangannya tidak terjadi begitu saja.

Ia mengatakan, dulu dirinya memiliki ketakutan yang sama seperti banyak orang terhadap limbah radioaktif dan risiko kecelakaan reaktor.

"Saya selalu takut terhadap limbah nuklir. Saya berpikir bahwa jika berada terlalu dekat dengannya, saya bisa mati. Tetapi secara intelektual, saya juga menyadari bahwa teknologi ini sebenarnya dapat bekerja dengan aman."

Pernyataan tersebut disampaikan Moore dalam wawancara dengan Politico pada 2008.

Ketika isu perubahan iklim semakin menjadi perhatian dunia pada akhir 1980-an, Moore mulai meninjau kembali pandangannya.

Menurutnya, dunia membutuhkan sumber energi bersih dalam jumlah besar untuk menggantikan bahan bakar fosil.

Dalam konteks itu, ia menilai energi nuklir tidak bisa diabaikan.

Setelah meninggalkan Greenpeace pada 1986, Moore aktif menyampaikan pandangannya bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi emisi karbon sekaligus memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.

Menurut Moore, tantangan terbesar dunia saat ini bukan hanya menyediakan listrik yang cukup, tetapi juga mengurangi emisi karbon yang menjadi penyebab utama perubahan iklim.

Ia menilai energi nuklir memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar tanpa menghasilkan emisi karbon selama proses pembangkitannya.

"Siapa pun yang melihat kebutuhan energi modern secara realistis akan memahami bahwa energi nuklir harus menjadi bagian penting dari solusi perubahan iklim."

Meski demikian, pandangan Moore tetap menuai perdebatan.

Banyak organisasi lingkungan masih menolak pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir karena mempertimbangkan biaya pembangunan yang tinggi, pengelolaan limbah radioaktif, serta risiko keselamatan apabila terjadi kecelakaan.

Moore berpendapat sebagian penolakan terhadap energi nuklir masih dipengaruhi persepsi yang terbentuk sejak era Perang Dingin.

Menurutnya, banyak orang masih menyamakan senjata nuklir dengan pembangkit listrik tenaga nuklir, padahal keduanya memiliki fungsi, tujuan, dan sistem pengamanan yang berbeda.

Ia juga menilai kemajuan teknologi telah membuat standar keselamatan reaktor jauh lebih baik dibandingkan beberapa dekade lalu.

Peristiwa seperti Three Mile Island, Chernobyl, dan Fukushima, menurutnya, menjadi pelajaran yang mendorong lahirnya sistem keselamatan yang semakin ketat.

Perdebatan mengenai energi nuklir masih berlangsung di berbagai negara.

Namun, kebutuhan akan energi yang bersih, stabil, dan mampu mendukung pertumbuhan industri terus meningkat.

Dalam konteks tersebut, kisah Patrick Moore menjadi contoh bahwa pandangan terhadap suatu teknologi dapat berubah setelah seseorang mempelajari data, fakta, dan perkembangan teknologi secara lebih mendalam.

Bagi Bangka Belitung, isu ini dinilai semakin relevan.

Provinsi tersebut memiliki cadangan timah yang besar, potensi logam tanah jarang (LTJ), serta posisi strategis untuk mendukung industri teknologi dan energi masa depan.

Di sisi lain, pembahasan mengenai energi nuklir di Bangka Belitung masih sering diwarnai kekhawatiran yang kuat.

Kehati-hatian tentu diperlukan, tetapi ruang diskusi berbasis data dan kajian ilmiah juga dinilai penting agar masyarakat dapat memahami berbagai sisi dari teknologi tersebut.

Moore sendiri menegaskan bahwa dukungannya terhadap energi nuklir bukan berarti meninggalkan kepeduliannya terhadap lingkungan.

"Pertanyaannya bukan apakah kita menyukai energi nuklir atau tidak. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menyediakan energi yang cukup bagi masyarakat modern sekaligus mengurangi emisi karbon secara signifikan."

Pandangan tersebut menjadi salah satu sudut pandang dalam diskusi mengenai masa depan energi.

Pada akhirnya, keputusan mengenai pengembangan energi di suatu daerah tetap memerlukan kajian ilmiah yang komprehensif, pertimbangan aspek keselamatan, lingkungan, ekonomi, serta keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan.* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Harganas 2026, Wagub Sumut Surya: Ketangguhan Keluarga Jadi Benteng Hadapi Tantangan Global
Bukan Lagi Lipat, Samsung Siapkan Ponsel Gulung yang Bisa Perluas Layar hingga Seukuran Tablet!
iPhone 18 Dikabarkan Bawa RAM 9GB dan Chip A20 2nm, Ini Bocoran Spesifikasinya
Prabowo: Saya Butuh Jumpa dengan Orang-Orang Pintar
Prabowo: Kampus Harus Jadi Tempat Adu Gagasan, Bukan Arena Pertentangan
Prabowo Ingatkan Bahaya AI: Bisa Menjadi Repot bagi Manusia
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru