Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
TAPTENG – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera (Satgas PRR) melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mendampingi penanganan darurat banjir yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Penanganan difokuskan pada penyelamatan warga, pemenuhan kebutuhan pengungsi, pembersihan permukiman, perbaikan tanggul yang jebol, serta normalisasi sungai untuk mencegah banjir kembali terjadi.
Banjir terjadi pada Sabtu, 18 Juli 2026, sekitar pukul 18.00 WIB setelah hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan sejumlah sungai meluap hingga menggenangi jalan dan permukiman warga.
Baca Juga:
Ketinggian air berkisar antara 30 sentimeter hingga satu meter dan melanda Kecamatan Tukka, Badiri, serta Pinangsori.
Berdasarkan laporan perkembangan hingga Selasa, 21 Juli 2026, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Sementara itu, pendataan kerusakan dan kerugian material masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama tim terkait.
Di Kecamatan Tukka, banjir berdampak pada Kelurahan Sipange, Bonalumban, dan Hutanabolon.
Meluapnya Sungai Aek Sagala dan Aek Harse mengakibatkan beberapa titik tanggul rusak sehingga air masuk ke jalan dan permukiman warga.
Setelah banjir surut, rumah-rumah warga masih dipenuhi endapan lumpur.
Masyarakat bersama pemerintah bergotong royong membersihkan rumah dan lingkungan agar aktivitas dapat kembali berjalan.
Banjir juga merendam Lingkungan I Kelurahan Lopian, Kecamatan Badiri, setelah Sungai Lopian meluap melewati tanggul.
Sementara itu, banjir di Lingkungan III Kelurahan Albion Prancis, Kecamatan Pinangsori, telah surut.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap melakukan pemantauan mengingat kondisi cuaca masih berpotensi memicu kenaikan debit sungai.
"Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah mengimbau warga yang masih berada di rumah agar segera mengungsi dan menyiapkan satu unit perahu fiber untuk mendukung evakuasi dan penyelamatan," tulis laporan tim yang dipimpin Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi BNPB Nelwan Harahap.
Penanganan pengungsi dipusatkan di sejumlah lokasi, salah satunya di HKBP Sipange yang dilengkapi dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makanan para pengungsi.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga telah menyalurkan berbagai bantuan, di antaranya:
- 170 paket sembako
- 100 selimut
- 100 matras
- Perlengkapan kebersihan
- Peralatan mandi
- Minyak goreng
- Popok untuk anak-anak dan orang dewasa
Bantuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa tanggap darurat.
BNPB bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Balai Besar Wilayah Sungai Kementerian Pekerjaan Umum telah menggelar rapat koordinasi sekaligus meninjau langsung tanggul yang jebol dan lokasi hunian sementara mandiri di Hutanabolon.
Pemerintah daerah juga terus melakukan asesmen terhadap kerusakan infrastruktur sebagai dasar penyusunan langkah penanganan lanjutan.
Saat ini, perbaikan empat titik tanggul yang jebol di Hutanabolon sedang berlangsung sepanjang sekitar satu kilometer.
Pemerintah menargetkan pekerjaan di bagian hulu selesai dalam waktu satu pekan.
Selain itu, normalisasi Sungai Silaga-laga juga tengah dikerjakan dengan dukungan tiga unit ekskavator yang berasal dari pihak swasta, Dinas Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Utara, dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tapanuli Tengah.
Pekerjaan pemulihan juga dilakukan di ruas Jalan Sipange–KM 14 menggunakan alat berat milik Balai Pelaksanaan Jalan Nasional guna mempercepat akses transportasi masyarakat serta distribusi logistik ke wilayah terdampak.
Untuk mempercepat penanganan, BNPB akan menambah sejumlah alat berat dalam proses normalisasi sungai dan penguatan tanggul.
"BNPB akan membantu normalisasi sungai dan perkuatan tebing melalui dukungan dua unit ekskavator, satu ekskavator mini, dua ekskavator lengan panjang, dua dump truck, serta 5.000 jumbo bag untuk penanganan tanggul sepanjang 400 meter di Sipange," tulis laporan tim yang dipimpin Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi BNPB Nelwan Harahap.
Pemerintah berharap percepatan penanganan ini dapat mengurangi risiko banjir susulan sekaligus mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat di Kabupaten Tapanuli Tengah.* (ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.