Prabowo Absen di Zikir Kebangsaan Monas, Menag Ungkap Alasan di Baliknya
JAKARTA Presiden RI Prabowo Subianto batal menghadiri kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas)
NASIONAL
JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah, menilai keberhasilan pemberantasan korupsi tidak semestinya diukur dari banyaknya pejabat yang ditangkap aparat penegak hukum. Menurutnya, indikator utama keberhasilan justru terletak pada kemampuan sistem dalam mencegah terjadinya tindak pidana korupsi.
Pernyataan tersebut disampaikan Fahri dalam Kajian Pengembangan Wawasan bertajuk Membedah Anatomi Korupsi di Indonesia, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Fahri, semakin sedikit pelaku korupsi yang diproses hukum menunjukkan sistem pencegahan berjalan semakin efektif.Baca Juga:
"Kalau berpikir makin banyak yang ditangkap artinya pemberantasan korupsi sukses, itu salah. Pemberantasan korupsi itu sukses justru semakin tidak ada yang saya tangkap," kata Fahri.
Meski demikian, Fahri menegaskan bahwa penindakan hukum tetap menjadi bagian penting dalam upaya pemberantasan korupsi. Namun, ia mengingatkan agar pendekatan represif tidak dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
Menurutnya, praktik korupsi harus dipahami secara menyeluruh melalui pendekatan sistemik (system approach) dengan melihat akar persoalan pada berbagai aspek, termasuk tiga cabang kekuasaan atau trias politika.
"Pemberantasan korupsi itu harus menggunakan pendekatan sistemik serta membaca anatomi korupsi secara komprehensif pada tiga cabang kekuasaan," ujarnya.
Fahri menjelaskan bahwa korupsi bukan hanya persoalan pelanggaran hukum semata, tetapi juga berkaitan erat dengan persoalan etika, kualitas regulasi, kelembagaan, hingga sistem pembiayaan politik.
Karena itu, ia menilai upaya penindakan harus dibarengi dengan pembenahan sistem agar praktik korupsi tidak terus berulang.
Sebagai langkah pencegahan, Partai Gelora mengusulkan pembentukan Peradilan Etika yang bertugas menangani pelanggaran etika pejabat sebelum berkembang menjadi tindak pidana korupsi.
"Partai Gelora akan mengusulkan agar Indonesia memiliki Peradilan Etika supaya lebih mudah menghadapi pelanggaran etika sebelum menyeberang menjadi tindak pidana korupsi," ujar Fahri.
Menurut mantan Wakil Ketua DPR RI itu, mekanisme Peradilan Etika akan lebih sederhana dan cepat dibanding proses pidana.
JAKARTA Presiden RI Prabowo Subianto batal menghadiri kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas)
NASIONAL
JAKARTA Youtuber sekaligus streamer Muhammad Jannah alias Bigmo dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan mengeksploitasi anak untuk ke
HUKUM DAN KRIMINAL
DELI SERDANG Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution meresmikan penerbangan perdana Wings Air rute Bandara Internasional Ku
PEMERINTAHAN
BANDA ACEH Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh mengajak masyarakat mengunjungi pameran foto jurnalistik bertajuk Prahara Pulau Emas yang
NASIONAL
KUPANG Presiden ke7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan seluruh kader dan pengurus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ag
POLITIK
LANGKAT Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumut Maulana Muttaqien, Sabtu (1/8/2026), secara
PERTANIAN AGRIBISNIS
JAKARTA Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah, menilai keberhasilan pemberantasan korupsi tidak semestinya diukur dari banyaknya pe
NASIONAL
JAKARTA Kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, dipadati ribuan jemaah yang menghadiri kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan, Sabtu (
NASIONAL
JAKARTA Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyiapkan berbagai strategi untuk mengantisipasi ancaman kekeringan yang berpotensi ter
NASIONAL
JAKARTA Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung Program Sekolah Rakyat melalui pembi
NASIONAL