BREAKING NEWS
Senin, 10 Agustus 2026

Maruli Siahaan dan BPIP Dorong Generasi Muda Amalkan Pancasila di Tengah Tantangan Digital

Dodi Kurniawan - Senin, 10 Agustus 2026 10:29 WIB
Maruli Siahaan dan BPIP Dorong Generasi Muda Amalkan Pancasila di Tengah Tantangan Digital
Anggota Komisi XIII DPR RI Maruli Siahaan bersama BPIP menggelar kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebijakan Pancasila di Andaliman Hall, Medan, Kamis, 6 Agustus 2026. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN — Anggota Komisi XIII DPR RI Maruli Siahaan bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggelar kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebijakan Pancasila di Andaliman Hall, Medan, Kamis, 6 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut mengangkat tema "Pancasila Sebagai Fondasi Ketahanan Bangsa: Menjawab Disintegrasi, Krisis Kepercayaan Publik, dan Tantangan Kesehatan Jiwa Generasi Muda."

Maruli mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk mencintai sekaligus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:

Menurut dia, pemahaman terhadap Pancasila menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter dan moralitas generasi penerus bangsa.

"Kita takut nanti regenerasi muda ini daya juangnya berkurang. Tapi kalau dia betul-betul paham tentang Pancasila, mulai sila pertama sampai sila kelima, di situlah salah satu sarana untuk membangun moralitas kita," kata Maruli.

Maruli mengatakan kemerdekaan dan kehidupan berbangsa yang dinikmati masyarakat saat ini harus dipertahankan dengan terus menanamkan nilai-nilai Pancasila.

Menurut dia, upaya tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Individu, kelompok, relawan, dan seluruh elemen masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.

"Kita undang dari berbagai suku dan lapisan masyarakat supaya mereka nanti menyampaikan nilai-nilai Pancasila kepada sesama dan lingkungan sekitarnya. Harapannya ada perubahan dalam diri, lebih disiplin, dan memahami pentingnya Pancasila," ujarnya.

Maruli juga menyoroti perkembangan teknologi digital yang dinilai menjadi salah satu tantangan dalam memperkuat ideologi bangsa.

Menurut dia, kemajuan teknologi tidak dapat dihindari dan memberikan banyak manfaat.

Namun, generasi muda tetap perlu menjaga rasa kebersamaan, persatuan, serta moralitas agar tidak terpengaruh dampak negatif perkembangan digital.

"Digital itu sangat bagus. Tapi jangan sampai karena sibuk menguasai digital, rasa kebersamaan, rasa persatuan, dan moralitas hilang. Jangan juga terbawa arus informasi yang tidak bermanfaat maupun hoaks," katanya.

Ia juga mengingatkan agar teknologi digunakan sebagai sarana untuk mendukung proses belajar dan meningkatkan produktivitas.

Teknologi, kata dia, jangan sampai membuat generasi muda terbiasa mencari jawaban secara instan hingga kehilangan kemampuan berpikir kritis.

"Teknologi memang sangat perlu, tetapi harus digunakan secara bijak. Jangan sampai membuat kita tidak lagi terbiasa berpikir kritis karena semua jawaban sudah tersedia," katanya.

Kepala Biro Hukum dan Organisasi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Edi Subowo, mengatakan Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara.

Menurut dia, Pancasila juga menjadi pedoman etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Edi menilai penerapan nilai-nilai Pancasila dapat menciptakan kehidupan yang harmonis sekaligus memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

"Kalau semua dilandasi nilai-nilai Pancasila, saya yakin kehidupan akan lebih nyaman dan masyarakat lebih tenang. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar bahwa masyarakat Indonesia hidup sesuai keyakinannya masing-masing dengan tetap saling menghormati," kata Edi.

Ia menjelaskan sila kedua mengajarkan nilai kemanusiaan melalui sikap saling menghormati dan membantu sebagai makhluk sosial.

Sementara sila ketiga menjadi perekat bangsa yang menyatukan masyarakat Indonesia dengan latar belakang suku, agama, budaya, dan bahasa yang beragam.

"Yang menyatukan kita dari Sabang sampai Merauke adalah Pancasila. Karena itulah Indonesia tetap bersatu meskipun memiliki banyak perbedaan," ujarnya.

Menurut Edi, sila keempat mengajarkan pentingnya musyawarah dalam pengambilan keputusan.

Adapun sila kelima menekankan pentingnya keadilan sesuai hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing.

"Adil itu tidak berarti harus sama. Adil adalah memberikan sesuai dengan porsi dan tugas masing-masing,"ucapnya.

Kegiatan penguatan relawan tersebut juga diisi dialog interaktif dengan menghadirkan dua narasumber.

Dosen FISIP Universitas Sumatera Utara, Fernanda Putra Adela, membahas sejumlah materi mengenai negara hukum, konstitusi, partisipasi warga negara, pentingnya membangun kepercayaan publik, serta penguatan ketahanan bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila.

Sementara itu, Lektor Universitas Sumatera Utara sekaligus psikolog, Rika Eliana, membahas tantangan kesehatan jiwa generasi muda di era digital.

Materi yang disampaikan mencakup tekanan akibat perkembangan teknologi, kecemasan sosial, pentingnya ketahanan mental, serta dukungan komunitas bagi generasi muda.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat mengenai nilai-nilai Pancasila sekaligus mendorong peran aktif generasi muda dalam menjaga persatuan, membangun karakter, dan menghadapi tantangan di era digital.* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Berharap Apa dari Pertemuan Presiden dengan Periset BRIN?
Kaesang vs Puan di Jateng V, Siapa Lebih Kuat: Pengaruh Jokowi atau Mesin PDIP?
Ingin Lebih Banyak Putra-Putri Asahan Jadi Praja IPDN, Bupati Minta Kuota Ditambah
Ray Rangkuti Kembali Desak Prabowo Copot Kapolri Listyo Sigit, Ini 10 Alasannya
H.M Yusuf Sambangi Veteran Sumut, Ingatkan Generasi Muda Tak Lupakan Sejarah: Jasa Pejuang Tak Terbalaskan
Prabowo Akan Rombak Buku Pelajaran SD-SMA, Ini Alasan dan Perubahannya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru