BREAKING NEWS
Selasa, 08 September 2026

Dari 'Kiamat' 1883 Hingga Tsunami 2018: Mengapa Anak Krakatau Tetap Jadi 'Bom Waktu' Selat Sunda?

Johan - Senin, 07 September 2026 19:19 WIB
Dari 'Kiamat' 1883 Hingga Tsunami 2018: Mengapa Anak Krakatau Tetap Jadi 'Bom Waktu' Selat Sunda?
Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus dipantau setelah mengalami episode erupsi menerus yang berlangsung selama sekitar 25 jam. (Foto: Dok. esdm)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Gunung Krakatau menjadi salah satu gunung api yang paling dikenal dalam sejarah dunia. Erupsi dahsyat pada 1883 menghancurkan sebagian besar Pulau Krakatau dan memicu tsunami besar yang menerjang pesisir Jawa serta Sumatera.

Puluhan tahun setelah bencana tersebut, aktivitas vulkanik kembali muncul di kawasan itu. Dari kaldera bekas letusan 1883 kemudian tumbuh gunung api baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.

Anak Krakatau kembali menjadi perhatian dunia pada 2018 ketika sebagian tubuh gunung runtuh ke laut dan memicu tsunami di Selat Sunda.

Baca Juga:

Letusan Krakatau 1883

Menurut catatan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), aktivitas Krakatau mulai terlihat pada awal Mei 1883. Kepulan abu dan debu dari Pulau Krakatau saat itu disaksikan oleh kapten kapal perang Jerman Elisabeth.

Krakatau merupakan pulau yang tidak berpenghuni. Aktivitas tersebut menjadi salah satu dokumentasi awal setelah Krakatau diperkirakan relatif tenang selama setidaknya 200 tahun.

Dalam dua bulan berikutnya, kapal-kapal yang melintas di sekitar kawasan Krakatau juga melaporkan kepulan hitam yang membubung dari gunung. Aktivitas tersebut disertai suara ledakan serta lontaran material vulkanik seperti abu pijar dan batu apung.

Puncak aktivitas terjadi pada 26 Agustus 1883. Sehari kemudian, 27 Agustus 1883, rangkaian ledakan semakin dahsyat hingga sebagian besar kawasan utara Pulau Krakatau runtuh ke laut.

Letusan tersebut menghasilkan lava, batu apung dan abu vulkanik dalam jumlah besar. Runtuhnya tubuh gunung kemudian memicu serangkaian tsunami yang menerjang kawasan pesisir di sekitar Selat Sunda.

Sekitar 36.000 orang meninggal dunia dalam bencana tersebut. Ratusan kota dan desa pesisir juga mengalami kehancuran.

Abu Krakatau Bikin Dunia Gelap

Dampak erupsi Krakatau 1883 tidak hanya dirasakan di sekitar Selat Sunda. Abu vulkanik yang terlontar ke atmosfer membuat kawasan sekitar Krakatau mengalami kegelapan selama sekitar dua setengah hari.

Dalam salah satu ledakan terbesar, abu vulkanik disebut terlontar hingga sekitar 80 kilometer ke atmosfer. Material vulkanik tersebut kemudian menyelimuti wilayah yang diperkirakan mencapai sekitar 800.000 kilometer persegi.

Partikel vulkanik yang menyebar ke berbagai penjuru dunia juga menyebabkan munculnya efek halo di sekitar Matahari dan Bulan.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Viral Api Kepung Lereng Paropo Dekat Jalan Raya, 1,5 Hektare Lahan Akhirnya Berhasil Dijinakkan
342 Bencana Landa Sumut dalam 8 Bulan, Bobby Nasution Terbitkan Ingub Siaga Karhutla dan Banjir
PB Puan MABMI Serahkan Bantuan untuk Kayla, Gadis Cilik Korban Luka Bakar di Batu Bara
Dijanjikan Rp80 Juta, Pemuda Asal Sampang Nekat Bawa 5 Kg Sabu dan 285 Ekstasi dari Sumut ke Madura
Sungai Deli Meluap, Permukiman Warga Medan Terendam hingga 1 Meter
Radius Bahaya Sinabung Dipersempit, Warga Kuta Tengah Akhirnya Bisa Pulang ke Rumah
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru