Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Pakar politik dan ilmu pemerintahan Prof Ryaas Rasyid menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sudah menunjukkan tanda-tanda kegagalan. Menurutnya, penilaian tersebut tidak harus menunggu pemerintahan berjalan hingga lima tahun.
Ryaas mengatakan pola kerja dan kinerja pemerintah yang terlihat sejak awal sudah dapat menjadi indikator untuk menilai arah pemerintahan ke depan. Dia mengibaratkan hal tersebut seperti seorang ahli sepak bola yang dapat membaca kecenderungan hasil pertandingan sejak awal.
"Kalau begini terus iya (pemerintahan Prabowo akan gagal). Banyak faktor sebenarnya, dan itu publik sudah tahu," ujar Ryaas, dikutip Minggu (13/9/2026).
Baca Juga:
Dia menilai seorang ahli tidak perlu menunggu seluruh pertandingan berakhir untuk mengetahui kemungkinan hasilnya. Menurut Ryaas, pola yang sama juga dapat digunakan untuk melihat jalannya sebuah pemerintahan.
"Saya ini kan ahli pemerintahan, ahli politik. Sama dengan kalau ahli sepak bola melihat pertandingan sepak bola itu tidak perlu menunggu sampai babak kedua selesai baru dia tahu siapa menang," katanya.
Ryaas bahkan menyebut kondisi pemerintahan saat ini sudah masuk kategori gagal menurut penilaiannya. Dia mengatakan perubahan mendasar perlu dilakukan agar persoalan tersebut tidak terus berlanjut.
"Sekarangnya sudah gagal. Jadi kalau tidak dikoreksi, akan gagal terus sampai di ujung. Makanya harus dikoreksi. Dan dikoreksi ini tidak gampang," ujar Ryaas.
Menurutnya, salah satu persoalan yang membuat perbaikan sulit dilakukan adalah adanya resistensi terhadap kritik. Ryaas menilai pihak yang sedang berkuasa tidak mudah menerima kritik maupun koreksi dari luar.
"Sehingga saya cepat saja menyimpulkan. Dan tidak mungkin lagi ditolong. Dia harus menolong dirinya sendiri," katanya.
Ryaas juga mengkritik kinerja jajaran pemerintahan yang dinilainya belum menunjukkan hasil terukur. Dia menilai tim pemerintahan belum terlihat bekerja secara optimal.
"Kinerja pemerintahan rendah, timnya tidak bekerja dengan baik. Sekarang ini pemerintahan kita cuma ada presiden, timnya tidak kelihatan, tidak bekerja, tidak nampak prestasi yang bisa diukur," tegasnya.
Kritik Ryaas turut menyentuh kondisi ekonomi dan ketenagakerjaan. Dia menyoroti nilai tukar, ekspor, serta persoalan pengangguran yang menurutnya menunjukkan adanya masalah serius.
"Ekonomi parah, tenaga lapangan kerja bahaya, dollar sampai sekarang sejak turun tidak pernah kembali. Kinerja ekspor kita tidak sesuai dengan harapan, pengangguran luar biasa, impor terbaru kan ada 1 juta sarjana yang menganggur," ujarnya.
Ryaas juga menyinggung pernyataan mengenai warga Indonesia yang tidak puas dengan kondisi dalam negeri dan dipersilakan untuk pergi. Menurutnya, narasi tersebut menunjukkan kepanikan dan ketidakmampuan dalam mengelola negara.
"Ini kan luar biasa, lalu isu-isu yang negatif yang muncul mengenai anjuran supaya orang-orang Indonesia yang tidak puas silakan pergi saja. Ini semua bentuk-bentuk dari kepanikan dan ketidakmampuan untuk mengelola negara secara baik," katanya.
Atas berbagai persoalan itu, Ryaas kembali menegaskan perlunya perubahan dari dalam pemerintahan. Dia menilai saran dari pihak luar tidak akan cukup apabila tidak ada kemauan untuk melakukan koreksi dari internal pemerintahan.
"Jadi sampai saya menyimpulkan bahwa tidak mungkin lagi diperbaiki. Dia harus memperbaiki dirinya sendiri. Siapa pun yang berusaha untuk memperbaiki dengan memberi saran, memberi nasihat, masukan, itu tidak akan berhasil," tegasnya.
Ryaas menduga salah satu penyebab kritik sulit diterima adalah tingkat kepercayaan diri pemerintah yang dinilainya terlalu tinggi. Kondisi tersebut, menurut dia, membuat masukan dari lingkungan sekitar maupun masyarakat sulit masuk.
"Ada resistensi yang kuat, pemerintahnya terlalu percaya diri atau mungkin pribadi presiden terlalu percaya diri sehingga sulit untuk masuk," jelasnya.
Dia juga menyebut kemungkinan ada pihak lain di sekitar pemerintahan yang memiliki pandangan serupa mengenai kondisi tersebut.
"Karena tidak mungkin hanya saya yang berpikir seperti ini, mesti banyak orang sekitarnya yang berpikir jernih. Saya sangat yakin," ujar Ryaas.
Ryaas turut menanggapi penurunan tingkat approval pemerintah yang disebut berada di sekitar 30 poin. Menurutnya, angka tersebut dapat menjadi alarm, meski dia mengaku sudah memiliki penilaian terhadap kinerja pemerintah tanpa melihat data tersebut.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu contoh yang disorot Ryaas. Dia menilai program tersebut memiliki anggaran besar dan merupakan salah satu program yang identik dengan Presiden Prabowo.
"Jadi situasi dengan contoh MBG saja sudah menunjukkan betapa buruknya kinerja pemerintahan kita," katanya.
Penilaian Ryaas tersebut merupakan pandangan dan kritik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo. Pemerintah belum memberikan tanggapan dalam bahan yang menjadi sumber berita ini.* (fj/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.