Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach membuka Sidang dan Rapat Virtual IOC ke-137 di Lausanne, Swiss, 10 Maret 2021. (foto: REUTERS/GREG MARTIN/IOC)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Larangan tersebut dikeluarkan usai Indonesia menolak pemberian visa bagi atlet Israel yang akan berlaga di Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025.
Dalam pernyataan resminya, Komite Eksekutif IOC menegaskan empat keputusan penting, salah satunya adalah menghentikan seluruh dialog dengan Komite Olimpiade Nasional Indonesia (NOC Indonesia) terkait penyelenggaraan berbagai ajang Olimpiade di masa mendatang.
"Mengakhiri segala bentuk dialog dengan Komite Olimpiade Nasional Indonesia (NOC) mengenai penyelenggaraan Olimpiade, Olimpiade Remaja, ajang Olimpiade, atau konferensi di masa mendatang hingga pemerintah Indonesia memberikan jaminan memadai kepada IOC bahwa mereka akan mengizinkan akses ke Indonesia bagi semua peserta, tanpa memandang kewarganegaraan," demikian pernyataan resmi IOC.
Selain itu, IOC juga meminta seluruh federasi internasional untuk tidak menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah kejuaraan internasional hingga pemberlakuan sanksi dicabut.
IOC menilai kebijakan penolakan visa terhadap atlet Israel bertentangan dengan prinsip non-diskriminasi dalam olahraga internasional. Sikap tersebut dianggap tidak sesuai dengan semangat netralitas dan persaudaraan global yang diusung Olimpiade.
Keputusan ini langsung memicu reaksi keras dari publik Indonesia. Di media sosial, tagar #BoycottIOC dan #StandWithPalestine ramai diperbincangkan.
Banyak warganet menilai keputusan IOC tidak adil dan menutup mata terhadap agresi Israel terhadap rakyat Palestina.
"Kalian aib dunia. Rusia dikucilkan karena membunuh warga sipil, tapi Israel membunuh siapa pun yang mereka mau. Sudah jelas siapa yang mendukung kalian. Kami, rakyat bebas, akan melakukan apa saja agar dunia melupakan Olimpiade," tulis salah satu netizen dengan nada marah.
Netizen lain juga menuding IOC bersikap hipokrit. "Memalukan, IOC. Kalian melarang Rusia dan Belarusia, tapi membela Israel. Kalau atlet mewakili negara yang melakukan genosida, seharusnya mereka juga ditolak," tulis akun lain di X (Twitter).
Tak sedikit pula yang menyerukan agar Indonesia menghidupkan kembali ajang Games of New Emerging Forces (GANEFO), kompetisi olahraga internasional yang lahir di era Presiden Soekarno sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat dalam olahraga dunia.
"Kami tak peduli karena kami punya GANEFO," tulis seorang pengguna media sosial yang mengutip semangat anti-imperialisme Bung Karno.