BREAKING NEWS
Senin, 23 Februari 2026

Merawat Kesehatan Mental: Tanggung Jawab Bersama yang Sering Diabaikan

Redaksi - Senin, 25 Agustus 2025 07:36 WIB
Merawat Kesehatan Mental: Tanggung Jawab Bersama yang Sering Diabaikan
Ilustrasi. (foto: ybgr)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Hubungan sosial di sekolah sering menjadi sumber tekanan yang tak disadari. Perselisihan antarsiswa atau konflik antara guru dan atasan kerap dibiarkan tanpa mediasi sehat. Budaya hierarkis membuat penyelesaian konflik lebih banyak mengandalkan otoritas daripada dialog sehingga pihak yang lemah memilih diam meski secara emosional terluka.

Tekanan semakin berat ketika lingkungan sosial di luar sekolah, khususnya dunia maya, ikut memberi dampak. Interaksi tanpa batas di media sosial sering menjadi ajang perundungan, gosip, atau perbandingan hidup yang tidak realistis sehingga memicu rasa minder, cemas, bahkan isolasi sosial, terutama tanpa literasi digital yang baik.

Masalah yang muncul di ranah digital kerap terbawa ke sekolah, memperburuk konflik, dan menambah beban mental, menegaskan bahwa kesehatan mental dipengaruhi bukan hanya oleh interaksi di sekolah, tetapi juga oleh ekosistem sosial yang melingkupinya.

Hubungan yang buruk mengikis rasa percaya diri, memicu kecemasan, dan memengaruhi prestasi akademik maupun kinerja mengajar. Fokus berlebihan pada prestasi akademik tanpa memperkuat keterampilan sosial-emosional berpotensi menciptakan sekolah yang kaku, menghasilkan siswa berprestasi di atas kertas, tetapi rapuh menghadapi tantangan hidup.

MENETAPKAN TUJUAN: MENGUBAH MOTIVASI MENJADI KEBIJAKAN

Tujuan yang jelas dapat menurunkan rasa cemas dan meningkatkan produktivitas (Snyder dkk, 2002). Namun, tujuan ini harus selaras antara individu dan institusi. Siswa boleh punya impian pribadi, guru boleh menetapkan target profesional, tetapi jika sistem terus memaksakan target yang tidak realistis, tujuan tersebut justru menjadi sumber stres baru.

Keberhasilan merawat kesehatan mental di sekolah bergantung pada harmonisasi antara motivasi individu, dukungan sosial, dan kebijakan pendidikan yang manusiawi. Tanpa itu, saran mengelola stres hanya terdengar manis di permukaan, tapi sulit diwujudkan.

PELAJARAN DARI SMA SUKMA BANGSA BIREUEN

SMA Sukma Bangsa Bireuen mencoba membalik paradigma ini. Program senam bersama mingguan, refleksi guru, dan kelas Manajemen Konflik Berbasis Sekolah (MKBS) bukan sekadar tambahan agenda, tetapi juga strategi membangun budaya sehat, fisik dan mental.

Senam bersama lebih dari sekadar olahraga. Ia menjadi ruang sosial untuk melepas penat, berbagi tawa, dan merasakan kebersamaan di luar tekanan akademik. Momen seperti ini memiliki efek terapeutik, memutus rutinitas monoton dan memberi sinyal bahwa sekolah peduli kepada kebahagiaan warganya.

Sesi refleksi guru menjadi ruang aman untuk berbagi pengalaman, kegelisahan, bahkan kebingungan tanpa takut dihakimi. Keterbukaan ini memperkuat jejaring emosional antarpendidik, yang berimbas positif pada interaksi dengan siswa.

MKBS menegaskan bahwa kesehatan mental bukan sekadar 'mencegah stres', tetapi juga mengelola konflik secara produktif. Konflik adalah hal alami, tetapi tanpa keterampilan mengelolanya, ia bisa berkembang menjadi sumber stres kronis. MKBS membekali teknik mendengar aktif, menyampaikan keberatan tanpa memicu pertengkaran, dan membangun solusi bersama.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru