Operasi Militer Tewaskan Bos Kartel CJNG, Piala Dunia 2026 Terancam Batal Digelar di Meksiko
MEKSIKO Kematian Nemesio Ruben Oseguera Cervantes, alias El Mencho, pemimpin Cartel Jalisco Nueva Generacion (CJNG), mengundang gelomba
INTERNASIONAL
Oleh:Marina Nova Wahyuni
KESEHATAN mental sering menjadi bahan seminar, tetapi jarang menjadi agenda nyata di ruang-ruang rapat sekolah. Di tengah laju perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi, para guru dan siswa, juga masyarakat, dipaksa beradaptasi dengan tekanan yang semakin kompleks.
Lingkungan yang kurang mendukung, relasi sosial yang rapuh, pola hidup yang tidak sehat, serta tuntutan psikologis yang berlebihan membuat kesehatan mental rentan terganggu. Ini bukan sekadar masalah personal, tetapi juga cermin dari sistem pendidikan yang belum sepenuhnya memahami bahwa kesehatan mental adalah fondasi kualitas belajar dan kehidupan sosial.
TANTANGAN PENDIDIKAN YANG MENEKAN DARI DUA ARAH
Sistem pendidikan kita kerap menuntut banyak hal dari siswa: tugas akademik yang menumpuk, kompetisi berlebihan, serta paparan media sosial tanpa literasi digital yang memadai. Akibatnya, muncul rasa cemas, depresi, bahkan trauma. Ironisnya, sekolah sering kali tidak menyediakan layanan konseling yang memadai. Kurangnya tenaga profesional dan minimnya program preventif membuat masalah ini baru terlihat saat sudah parah.
Guru pun menghadapi tekanan besar. Kebijakan pendidikan yang sering berubah menuntut mereka selalu adaptif, sementara administrasi yang menumpuk menggerus waktu untuk mendampingi siswa. Peran ganda di rumah, sebagai orangtua, pasangan, atau anak, menambah beban emosional. Peran guru yang seharusnya berfokus pada pembelajaran sering tereduksi menjadi sekadar memenuhi target administratif. Kondisi ini, dalam jangka panjang, merusak kesehatan mental guru dan mengikis kualitas hubungan guru–siswa.
Tekanan yang dialami siswa dan guru saling memengaruhi. Siswa yang tertekan sulit belajar efektif, guru yang lelah secara mental sulit memberi dukungan penuh. Lingkaran ini harus diputus jika pendidikan ingin berjalan optimal.
MERAWAT KESEHATAN MENTAL: ANTARA KESADARAN DAN KEBIJAKAN
Menjaga kesehatan mental memang tanggung jawab individu, dengan istirahat cukup, pola makan sehat, olahraga, relaksasi, dan membangun hubungan positif. Namun, membebankan seluruh beban pada individu tanpa memperbaiki sistem ibarat memaksa orang berenang di laut bergelombang tanpa pelampung.
WHO (2022) menekankan pentingnya intervensi di tingkat individu, sosial, dan struktural. Artinya, harus ada kebijakan pendidikan yang berpihak pada kesejahteraan psikologis. Mengelola stres bukan sekadar melakukan yoga atau mendengarkan musik; ia memerlukan jadwal belajar yang manusiawi, target kerja realistis, dan ruang aman untuk berdialog.
Sayangnya, di banyak sekolah, guru yang stres dianggap kurang tahan banting, siswa yang depresi dianggap lemah. Paradigma ini mengabaikan akar persoalan yang bersumber dari budaya sekolah dan kebijakan yang tidak peka terhadap aspek psikologis.
Hubungan sosial di sekolah sering menjadi sumber tekanan yang tak disadari. Perselisihan antarsiswa atau konflik antara guru dan atasan kerap dibiarkan tanpa mediasi sehat. Budaya hierarkis membuat penyelesaian konflik lebih banyak mengandalkan otoritas daripada dialog sehingga pihak yang lemah memilih diam meski secara emosional terluka.
Tekanan semakin berat ketika lingkungan sosial di luar sekolah, khususnya dunia maya, ikut memberi dampak. Interaksi tanpa batas di media sosial sering menjadi ajang perundungan, gosip, atau perbandingan hidup yang tidak realistis sehingga memicu rasa minder, cemas, bahkan isolasi sosial, terutama tanpa literasi digital yang baik.
Masalah yang muncul di ranah digital kerap terbawa ke sekolah, memperburuk konflik, dan menambah beban mental, menegaskan bahwa kesehatan mental dipengaruhi bukan hanya oleh interaksi di sekolah, tetapi juga oleh ekosistem sosial yang melingkupinya.
Hubungan yang buruk mengikis rasa percaya diri, memicu kecemasan, dan memengaruhi prestasi akademik maupun kinerja mengajar. Fokus berlebihan pada prestasi akademik tanpa memperkuat keterampilan sosial-emosional berpotensi menciptakan sekolah yang kaku, menghasilkan siswa berprestasi di atas kertas, tetapi rapuh menghadapi tantangan hidup.
MENETAPKAN TUJUAN: MENGUBAH MOTIVASI MENJADI KEBIJAKAN
Tujuan yang jelas dapat menurunkan rasa cemas dan meningkatkan produktivitas (Snyder dkk, 2002). Namun, tujuan ini harus selaras antara individu dan institusi. Siswa boleh punya impian pribadi, guru boleh menetapkan target profesional, tetapi jika sistem terus memaksakan target yang tidak realistis, tujuan tersebut justru menjadi sumber stres baru.
Keberhasilan merawat kesehatan mental di sekolah bergantung pada harmonisasi antara motivasi individu, dukungan sosial, dan kebijakan pendidikan yang manusiawi. Tanpa itu, saran mengelola stres hanya terdengar manis di permukaan, tapi sulit diwujudkan.
PELAJARAN DARI SMA SUKMA BANGSA BIREUEN
SMA Sukma Bangsa Bireuen mencoba membalik paradigma ini. Program senam bersama mingguan, refleksi guru, dan kelas Manajemen Konflik Berbasis Sekolah (MKBS) bukan sekadar tambahan agenda, tetapi juga strategi membangun budaya sehat, fisik dan mental.
Senam bersama lebih dari sekadar olahraga. Ia menjadi ruang sosial untuk melepas penat, berbagi tawa, dan merasakan kebersamaan di luar tekanan akademik. Momen seperti ini memiliki efek terapeutik, memutus rutinitas monoton dan memberi sinyal bahwa sekolah peduli kepada kebahagiaan warganya.
Sesi refleksi guru menjadi ruang aman untuk berbagi pengalaman, kegelisahan, bahkan kebingungan tanpa takut dihakimi. Keterbukaan ini memperkuat jejaring emosional antarpendidik, yang berimbas positif pada interaksi dengan siswa.
MKBS menegaskan bahwa kesehatan mental bukan sekadar 'mencegah stres', tetapi juga mengelola konflik secara produktif. Konflik adalah hal alami, tetapi tanpa keterampilan mengelolanya, ia bisa berkembang menjadi sumber stres kronis. MKBS membekali teknik mendengar aktif, menyampaikan keberatan tanpa memicu pertengkaran, dan membangun solusi bersama.
Namun, semua ini hanya berdampak jangka panjang jika dilaksanakan konsisten, didukung penuh manajemen, dan terintegrasi ke kebijakan sekolah. Tanpa itu, kegiatan ini berisiko menjadi seremonial yang kehilangan daya ubahnya.
PENUTUP: DARI KESADARAN MENUJU PERUBAHAN
Kesehatan mental tidak boleh hanya menjadi topik seminar tahunan. Ia harus menjadi bagian dari strategi pendidikan. Guru dan siswa berhak atas lingkungan belajar yang sehat secara emosional, bukan sekadar tempat mengejar target akademik. Jika hal itu diabaikan, kita berisiko melahirkan generasi yang pintar secara kognitif, tetapi rapuh secara emosional.
Merawat kesehatan mental berarti merawat masa depan, tanggung jawab kolektif yang memerlukan keberanian untuk mengubah budaya, kebijakan, dan cara pandang pendidikan. Tanpa langkah nyata dari semua pihak, wacana kesehatan mental akan tetap menjadi cerita setengah hati: dibicarakan, tapi tak pernah benar-benar diwujudkan.* (mediaindonesia.com)
*) Penulis adalahGuru SMA Sukma Bangsa Bireuen, SMT Bidang Riset & Publikasi
MEKSIKO Kematian Nemesio Ruben Oseguera Cervantes, alias El Mencho, pemimpin Cartel Jalisco Nueva Generacion (CJNG), mengundang gelomba
INTERNASIONAL
JAKARTA PT Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) hingga kini belum mencatatkan keuntungan, bahkan masih mengalami kerugian. Hal ini disampaikan ole
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Komisi III DPR memberikan perhatian khusus terhadap kasus anak buah kapal (ABK) Fandi Ramadhan (26) yang dituntut hukuman mati a
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyesalkan pernyataan kontroversial pemilik akun media sosial sasetyaningtyas yang menye
NASIONAL
TAPANULI SELATAN Sejumlah papan bunga berisi ucapan selamat dan terima kasih kepada Bupati Tapanuli Selatan menghiasi kompleks perkantor
PEMERINTAHAN
MEDAN Pemerintah Kota Medan meniadakan kegiatan Car Free Day (CFD) di kawasan Lapangan Merdeka selama Ramadan 1447 Hijriah. Kebijakan te
PEMERINTAHAN
MAKASSAR Dua perwira di lingkungan Polres Toraja Utara ditahan di Polda Sulawesi Selatan setelah diduga terlibat dalam kasus peredaran n
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Kementerian Keuangan mencatat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Januari 2026 mengalami defisit Rp54,6 tril
EKONOMI
JAKARTA Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau seluruh umat Islam untuk berhatihati membeli produk asal Amerika Serikat (AS) yang masu
NASIONAL
JAKARTA Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar melaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait penggunaan jet pribadi dari manta
HUKUM DAN KRIMINAL