Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Kemudian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadikan kehadirannya di
Sidang Umum PBB sebagai panggung untuk mempromosikan peran
Indonesia sebagai "jembatan" dan "juru damai" global. Dengan percaya diri, ia menyuarakan isu-isu seperti dialog antaragama, demokrasi, dan perdamaian.
Di bawah ke
pemimpinannya,
Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti percakapan global, tetapi aktif membentuknya. Kehadiran SBY adalah puncak dari diplomasi soft power
Indonesia, yang berhasil mendapatkan pengakuan internasional dan bahkan sempat digadang-gadang untuk menjadi anggota tetap Dewan Keamanan
PBB.Dan Presiden Joko Widodo membawa gaya yang berbeda.
Pidato pertamanya di
PBB yang berjudul "Dari Desa ke
PBB", mencerminkan fokusnya yang konkret dan pragmatis. Podium
PBB dimanfaatkan untuk diplomasi ekonomi. Ia lebih banyak membahas kerja sama pembangunan, investasi, infrastruktur, dan isu-isu praktis seperti perubahan iklim dan kelapa sawit.
Kehadiran selanjutnya Via Online Presiden Jokowi menggunakan Majelis
PBB sebagai panggung untuk meyakinkan investor global dan mempromosikan kepentingan nasional yang sangat teknis pasca Wabah Covid19. Gaya ini menunjukkan evolusi prioritas
Indonesia dari
politik ideologis ke ekonomi-pragmatis, dan semua dilakukan melalui komunikasi DaringKini, Presiden
Prabowo Subianto akan mengikuti tradisi kehadiran di
Sidang Umum PBB ini dalam konteks dunia yang sangat berbeda, Dalam situasi perang di Eropa, ketegangan AS-China, krisis iklim, dan ketidakpastian ekonomi global.
Prabowo dapat dikatakan berada Di Persimpangan Sejarah, Tentu kehadirannya akan dibaca publik melalui dua lensa:
1. Kontinuitas: Apakah ia akan meneruskan tradisi
politik luar negeri "bebas-aktif" dan komitmen pada multilateralisme seperti para pendahulunya.2. Perubahan: Sebagai mantan jenderal dengan visi yang sering disebut lebih nasionalis dan tegas, apakah ia akan membawa gaya dan substansi baru yang lebih ofensif dalam memperjuangkan kepentingan nasional.
Dunia akan memperhatikan, Akankah ia mengikuti jejak Soekarno dengan retorika yang vokal dan berani? Atau mengadopsi pendekatan SBY sebagai juru damai? Ataukah melanjutkan gaya pragmatis Jokowi dengan fokus pada ekonomi.
Yang Pasti Tradisi kehadiran presiden
Indonesia di
Sidang Umum PBB adalah cermin dari evolusi bangsa. Dari revolusioner (Soekarno), ke stabilisator (Soeharto), ke reformis (Habibie - Gusdur - Megawati), ke juru damai global (SBY), hingga ekonomi pragmatis (Jokowi). Setiap pidato perdana adalah halaman pertama dari babak
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.