Bagi Indonesia, ia adalah amplifier yang memperkuat suara nasional menjadi suara global. Bagi Prabowo, ia adalah panggung untuk membuktikan bahwa Indonesia bukan hanya peserta, tetapi juga pengarah arsitek masa depan tatanan dunia yang lebih inklusif dan adil. Tantangannya adalah tidak hanya memanfaatkan panggung ini untuk berbicara, tetapi juga membangun koalisi yang diperlukan untuk mewujudkan kata-kata itu menjadi tindakan nyata.
Diplomasi summit adalah teater tempat symbolic politics dimainkan dengan taruhan yang sangat tinggi. Setiap gerakan dari isi pidato, pilihan kata, hingga dengan siapa ia berfoto dikurasi dengan hati-hati untuk mengirim pesan tertentu. Namun, symbolic politics dalam diplomasi summit juga menyimpan bahaya besar. Risikoterbesarnya adalah kesenjangan antara citra dan realita (image-reality gap).
Jika retorika visioner tentang perdamaian, kolaborasi dan keadilan di Sidang UmumPBB tidak diiringi dengan tindakan nyata dan konsisten, maka citra yang dibangun dengan mahal itu akan dengan cepat runtuh dan dilihat sebagai kemunafikan. Diplomasi summit bisa menjadi bumerang jika hanya dipandang sebagai photo opportunity belaka tanpa hasil substantive yang jelas bagi rakyat.* (news.detik.com)*) Penulis adalahWakil Rektor Universitas Jakarta, Ketua Umum DPP KNPI, Founder OIC Youth dan Asian African Youth Government, Presiden World NYC Federation.