BREAKING NEWS
Selasa, 31 Maret 2026

Guru dan Kepahlawanan

BITV Admin - Senin, 10 November 2025 15:15 WIB
Guru dan Kepahlawanan
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Victor Yasadhana

MESKIPUN berdasarkan Surat Edaran PGRI Nomor 447/Um/PB/XIX/2007 tanggal 27 November 2007 secara resmi lirik lagu Hymne Guru yang diciptakan (alm) Sartono tidak lagi menyatakan guru sebagai pahlawan tanda jasa, narasi bahwa guru adalah 'pahlawan'--dan lebih lagi 'tanpa tanda jasa'--telanjur melekat di benak banyak orang Indonesia. Secara global, guru sebagai 'pahlawan' telah dianggap sebagai kebenaran tak terelakkan.

Masyarakat membangun narasi ini untuk merepresentasikan kekaguman terhadap profesi yang lekat dengan dedikasi dan pengorbanan. Guru dipandang sebagai mentor, sumber ilmu, sekaligus jaminan masa depan murid-muridnya.

Baca Juga:

Sosok guru banyak digambarkan sebagai manusia yang berbuat melebihi harapan kebanyakan manusia. Karena itu, di berbagai budaya dan masyarakat, profesi guru selalu menempati posisi terhormat.

Namun, benarkah narasi 'guru sebagai pahlawan' tepat? Apakah kepahlawanan yang disematkan memberikan keuntungan pada guru dalam menjalankan tugasnya? Lebih jauh, apakah menempatkan 'guru sebagai pahlawan' adalah salah satu cara yang tepat untuk memperbaiki kualitas pendidikan kita?

NARASI KEPAHLAWANAN
Pahlawan atau hero (dan heroine) berasal dari kata dalam bahasa Yunani, heros, yang dimaknai sebagai pelindung (protector) atau penjaga (safeguard). Terminologi ini telah mengalami perubahan seiring waktu.

Dalam mitologi Yunani kuno, heros merujuk pada figur dengan kemampuan super--sering kali perpaduan dewa dan manusia--yang melakukan kebaikan seperti memerangi monster.

Pada masa modern, sebutan pahlawan berkembang dan identik dengan pahlawan perang, mereka yang biasanya menunjukkan keberanian, pengorbanan (bahkan mengorbankan hidup mereka), seiring dengan berbagai kualitas diri atau karakter baik (noble qualities) seperti teguh pendirian, dapat dipercaya, integritas/jujur, berkehendak kuat, dan sebagainya.

Oleh karena itu, kita menemukan pahlawan dalam banyak aspek kehidupan, seperti paramedis, pemadam kebakaran, dan tenaga kesehatan garda depan.

Dalam banyak narasi, baik yang autentik maupun yang sengaja dikonstruksi, guru hampir selalu dilukiskan sebagai sosok yang penuh dengan kebaikan. Kalaupun ada kisah buruk tentang seorang guru, pesan moralnya tetap sama.

Kisah itu justru menggambarkan kualitas yang tidak diharapkan dari seorang guru sehingga pada akhirnya ia dianggap tidak pantas menyandang gelar tersebut.

Dalam perjalanan sejarah di Indonesia, bahkan guru pernah identik dengan istilah 'pahlawan tanpa tanda jasa' yang dimaknai sebagai perayaan penghargaan terhadap kerja tanpa pamrih, pengorbanan di jalan sunyi, dan kerendahan hati demi orang lain: murid mereka. Kisah tentang guru sering didominasi gambaran kerasnya kehidupan mereka: gaji yang kecil, medan yang sulit, dan fasilitas sekolah yang tidak layak.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Tangis Kakak Marsinah Pecah di Istana Negara: Marsinah Resmi Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional 2025
Polda Sumut Peringati Hari Pahlawan 2025: Teladani Nilai Perjuangan, Wujudkan Indonesia Maju
Presiden Prabowo Pimpin Ziarah Nasional di TMP Kalibata: “Jaga Warisan Perjuangan Para Pahlawan”
Refleksi Hari Pahlawan: Ancaman dari Pengkhianatan Anak Bangsa Sendiri
Peringatan Hari Pahlawan di Simalungun Semakin Khidmat, Tuan Rondahaim Saragih Ditetapkan Pahlawan Nasional
Aksi Brutal di Cikarang! Pemuda Diserang Obeng, Pelaku Diamankan Brimob
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru