Secara struktural, narasi kepahlawanan guru berpotensi mengaburkan kegagalan sistemis dalam sistem pendidikan. Fokus pada upaya heroik guru dalam mendidik, mengalihkan perhatian banyak masalah struktural pendidikan seperti kemiskinan, ketimpangan, ketidakadilan, dan kebijakan pendidikan yang tidak memadai (Pandolpho: 2019; Leland: 2019).
Saat guru dipuji karena menembus hutan atau mengorbankan gaji untuk fasilitas sekolah, perhatian mudah tertuju pada pengorbanan inspiratif individu alih-alih pada kegagalan sistem yang memaksa mereka berkorban.
Narasi semacam ini hanya akan membebaskan pembuat kebijakan dan masyarakat luas dari tanggung jawab untuk mewujudkan pendidikan yang adil dan bermartabat.
Seolah masalah pendidikan dapat diatasi dengan menugaskan banyak individu yang berdedikasi dan siap berkorban dan bukan pada upaya perbaikan struktural yang terukur dan menimbang prinsip keadilan.
Narasi kepahlawanan guru mungkin berangkat dari niat baik. Namun, tanpa perhatian pada persoalan struktural, narasi kepahlawanan guru hanyalah hiburan semu yang tidak mengatasi akar masalah pendidikan.
Menjadikan guru sebagai awal perbaikan mutu pendidikan adalah langkah krusial. Peningkatan kapasitas guru adalah sebuah keniscayaan. Namun, menjadikan guru sebagai pahlawan tanpa dukungan sistem yang nyata justru merupakan pilihan yang keliru dan perlu kita tinggalkan.* (mediaindonesia.com)
*) Penulis adalahDirektur Kerja Sama antarlembaga Yayasan Sukma