BREAKING NEWS
Selasa, 11 Agustus 2026

Indonesia dan Dilema Energi ala Prometheus dan Ikarus

- Selasa, 09 Desember 2025 17:16 WIB
Indonesia dan Dilema Energi ala Prometheus dan Ikarus
Ilustrasi. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Ontario di Kanada menjadikan nuklir tulang punggung bauran energinya dan menikmati harga listrik yang stabil. Uni Emirat Arab membangun reaktor Barakah dan kini menghasilkan listrik bersih secara konsisten.

Mereka melihat teknologi bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang.

Di Indonesia, peluang itu sebenarnya ada. Cadangan thorium di Bangka Belitung termasuk yang terbesar di Asia Tenggara. Proyek reaktor generasi IV seperti molten salt reactor menawarkan keselamatan yang jauh lebih tinggi dari generasi sebelumnya.

Jika dikelola dengan baik, teknologi ini bisa menjadi fondasi transisi energi yang lebih realistis dibanding hanya berharap pada sumber intermiten seperti surya dan angin.

Dengan kata lain, Api Prometheus adalah gambaran keberanian mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang tersedia dan potensi manfaat jangka panjang.

Lilin Ikarus sebagai Metafora Ketakutan Kolektif

Namun cerita Ikarus mengingatkan kita bahwa keberanian tanpa perhitungan dapat berujung petaka.

Dalam konteks nuklir Indonesia, ketakutan publik sering kali justru berada di sisi yang berlawanan: sayap lilin yang dibuat karena kita memilih tetap jauh dari realitas teknologi, dan mendekat justru ketika informasi yang kita miliki tidak lengkap.

Ketakutan itu punya sejarah panjang. Chernobyl dan Fukushima menjadi memori global yang sulit hilang. Hiburan populer memperkuat persepsi bahwa nuklir identik dengan bom atau kehancuran. Hal ini membuat masyarakat enggan percaya pada fakta teknis.

Padahal secara ilmiah, reaktor listrik tidak dapat meledak seperti bom karena tingkat pengayaannya sangat rendah. Desain generasi terbaru pun memakai keselamatan pasif yang dapat menghentikan reaksi otomatis bila sistem utama gagal.

Data global menunjukkan tingkat kematian akibat energi nuklir berada pada sekitar 0,03 jiwa per TWh, lebih rendah dibanding energi surya atau angin. Limbah radioaktif tinggi selama beberapa dekade ini pun hanya setara satu kolam renang Olimpiade dan sebagian besar dapat didaur ulang.

Fakta-fakta ini sering tidak didengar karena ketakutan sudah membentuk 'sayap lilin' yang mudah meleleh bahkan sebelum mendekati matahari.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gubernur Aceh Libatkan Tim China untuk Evakuasi Korban Longsor, Wakil Ketua MPR: Tidak Salah
Outlook 2026: APINDO Waspadai Risiko Global, Namun Prediksi Pertumbuhan Tetap Positif
Strategi BI Hadapi Omba Ketidakpastian Global, Ekonomi RI Tetap Tangguh
Gubernur Sumut Tegaskan Reforma Agraria Harus Berikan Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Ratusan Hektare Sawah Terancam Gagal Tanam Akibat Bendungan Aek Mandurana Jebol Pascabanjir, PERWASI Tapsel Desak Perbaikan
Inflasi Sumut Turun ke 3,96 Persen, Pengamat Sebut Intervensi Komoditas Berhasil
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru