Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Lilin Ikarus dalam kasus Indonesia adalah kombinasi trauma, informasi yang setengah matang, serta ketidakpercayaan terhadap institusi pengelola energi.
i dalam analisis kebijakan publik, ini disebut risiko persepsi, yaitu ketika persepsi risiko lebih besar daripada risiko aktual. Ia membuat kita berhenti, padahal jalan di depan mungkin aman.
Memilih Jalan: Mengelola Risiko tanpa Terjebak Ketakutan
Perdebatan nuklir sering diperlakukan seperti perdebatan moral, padahal seharusnya menjadi perdebatan teknis yang berbasis data. Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak takut, tetapi bangsa yang tahu mana takut yang rasional dan mana yang tidak.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan dasar teknis. Kita punya sumber daya thorium, lembaga penelitian nuklir, dan regulasi keselamatan yang terus diperbaiki. Proyek-proyek demonstrasi mulai berjalan.
Tantangan terbesar justru berada pada kepastian kebijakan dan kejelasan institusi. Masalah terbesar bukan teknologinya, tetapi absennya keputusan yang konsisten.
Dalam ekonomi transisi, negara sering dihadapkan pada dilema: menunda karena takut salah, atau bergerak karena biaya penundaan justru lebih besar. Sektor energi adalah contoh klasik.
Bila Indonesia terus menunda nuklir, kita berisiko mempertahankan bauran energi kotor hingga puluhan tahun ke depan. Kombinasi banjir, polusi, dan biaya kesehatan adalah konsekuensi ekonomi yang harus dibayar generasi mendatang.
Pelajaran dari Prometheus dan Ikarus
Mitologi Yunani memberi kita dua pelajaran penting. Prometheus dihukum bukan karena memberikan api kepada manusia, tetapi karena melakukannya tanpa restu para dewa.
Ikarus jatuh bukan karena ia ingin terbang, tetapi karena ia menggunakan bahan yang tidak tepat. Dua cerita itu mengingatkan bahwa persoalan bukan pada ambisinya, melainkan pada kesiapan dan perhitungan.
Dalam konteks Indonesia, Api Prometheus adalah simbol inovasi dan keberanian mengambil langkah yang diperlukan untuk transisi energi. Lilin Ikarus adalah metafora keputusan yang diambil tanpa pengetahuan, atau ketakutan yang dipelihara tanpa dasar.
Kita tidak perlu mengulang dua tragedi itu sekaligus. Indonesia tidak sedang kekurangan api; teknologi nuklir modern tersedia, cadangan bahan bakar ada, dan kebutuhan energi bersih mendesak.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.