ERA post-truth yang berfokus pada eksistensi personal atau kelompok patut dipahami sebagai jebakan pembodohan karena benar atau salah sebuah fakta dan argumentasi menjadi tidak penting.
Nyata bahwa post-truth berlawanan dengan prinsip kebenaran dan keadilan. Demi melindungi kewarasan bersama, negara hendaknya semakin bijaksana dan lebih sistematis dalam memerangi penyebarluasan hoaks, misinformasi dan disinformasi.
Post-truth yang menciptakan jebakan pembodohan itu layak diterima dan disikapi sebagai tantangan bersama era terkini. Disadari atau tidak, salah satu model kejahatan era post-truth yang nyaris terjadi setiap hari adalah rekayasa jebakan untuk membodohi banyak orang.
Cara yang ditempuh adalah menjejali ruang pubik dengan menyosialisasikan narasi sesat, rangkaian pernyataan bohong hingga manipulasi informasi. Melalui penyebarluasan misinformasi, disinformasi serta hoaks yang berkelanjutan pada platform media sosial, publik dipaksa untuk menerima fakta yang salah sebagai kebenaran, dan sebaliknya, fakta tentang kebenaran dipaksakan untuk diterima sebagai kesalahan.
Layak disebut kejahatan karena jebakan pembodohan (stupidity trap) itu menargetkan perusakan kewarasan bersama. Jebakan pembodohan tentu saja dirancang sedemikian rupa, dengan tujuan mencegah kemampuan individu atau komunitas menggunakan akal sehat, intelektualitas dan analisis kritis.
Selain penyebarluasan hoaks dan disinformasi, upaya pembodohan tak jarang dilakukan dengan menciptakan situasi -bahkan sistem- guna menimbulkan kebingungan, penyesatan, atau menghalangi orang berpikir kritis dalam memahami sebuah kebenaran maupun sebuah kesalahan.
Patut untuk disadari bersama bahwa semua itu dirancang dan dijejalkan ke ruang publik untuk menggoyahkan atau membuat rapuh kewarasan bersama.
Lebih dari itu, jebakan pembodohan itu bahkan ditujukan untuk membentuk atau memelihara polarisasi masyarakat demi merawat dan melindungi kepentingan sempit kelompok-kelompok tertentu.
Polarisasi yang telah terbentuk dilanjutkan dengan upaya menyulut emosi antarkelompok masyarakat, semata-mata untuk menyikapi fakta masalah yang tidak berkait langsung dengan kepentingan dan kebaikan bersama.
Mereka yang menunggangi fenomena post-truth untuk membodohi banyak komunitas itu biasanya tak pernah jauh dari masyarakat. Bahkan mereka umumnya menjadi bagian tak terpisah dari masyarakat itu sendiri.
Sebab, masyarakat di sekitarnya lah yang memang menjadi target kebohongan dan perilaku manipulatif mereka. Ada yang menyandang status sebagai figur terpandang atau kaum elit. Ada Pebisnis hingga oknum politisi. Mereka punya rekam jejak tak terpuji. Umumnya haus kuasa dan koruptif.