BREAKING NEWS
Sabtu, 14 Februari 2026

Melindungi Kewarasan Bersama dari Jebakan Batman Pembodohan Era Post-Truth

BITV Admin - Sabtu, 20 Desember 2025 08:27 WIB
Melindungi Kewarasan Bersama dari Jebakan Batman Pembodohan Era Post-Truth
Bambang Soesatyo, Anggota DPR RI/Ketua MPR RI ke-15/Ketua DPR RI ke-20/Ketua komisi II| DPR RI ke-7. (foto: bambang.soesatyo/ig)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Bambang Soesatyo.

ERA post-truth yang berfokus pada eksistensi personal atau kelompok patut dipahami sebagai jebakan pembodohan karena benar atau salah sebuah fakta dan argumentasi menjadi tidak penting.

Nyata bahwa post-truth berlawanan dengan prinsip kebenaran dan keadilan. Demi melindungi kewarasan bersama, negara hendaknya semakin bijaksana dan lebih sistematis dalam memerangi penyebarluasan hoaks, misinformasi dan disinformasi.

Baca Juga:

Post-truth yang menciptakan jebakan pembodohan itu layak diterima dan disikapi sebagai tantangan bersama era terkini. Disadari atau tidak, salah satu model kejahatan era post-truth yang nyaris terjadi setiap hari adalah rekayasa jebakan untuk membodohi banyak orang.

Cara yang ditempuh adalah menjejali ruang pubik dengan menyosialisasikan narasi sesat, rangkaian pernyataan bohong hingga manipulasi informasi. Melalui penyebarluasan misinformasi, disinformasi serta hoaks yang berkelanjutan pada platform media sosial, publik dipaksa untuk menerima fakta yang salah sebagai kebenaran, dan sebaliknya, fakta tentang kebenaran dipaksakan untuk diterima sebagai kesalahan.

Layak disebut kejahatan karena jebakan pembodohan (stupidity trap) itu menargetkan perusakan kewarasan bersama. Jebakan pembodohan tentu saja dirancang sedemikian rupa, dengan tujuan mencegah kemampuan individu atau komunitas menggunakan akal sehat, intelektualitas dan analisis kritis.

Selain penyebarluasan hoaks dan disinformasi, upaya pembodohan tak jarang dilakukan dengan menciptakan situasi -bahkan sistem- guna menimbulkan kebingungan, penyesatan, atau menghalangi orang berpikir kritis dalam memahami sebuah kebenaran maupun sebuah kesalahan.

Patut untuk disadari bersama bahwa semua itu dirancang dan dijejalkan ke ruang publik untuk menggoyahkan atau membuat rapuh kewarasan bersama.

Lebih dari itu, jebakan pembodohan itu bahkan ditujukan untuk membentuk atau memelihara polarisasi masyarakat demi merawat dan melindungi kepentingan sempit kelompok-kelompok tertentu.

Polarisasi yang telah terbentuk dilanjutkan dengan upaya menyulut emosi antarkelompok masyarakat, semata-mata untuk menyikapi fakta masalah yang tidak berkait langsung dengan kepentingan dan kebaikan bersama.

Mereka yang menunggangi fenomena post-truth untuk membodohi banyak komunitas itu biasanya tak pernah jauh dari masyarakat. Bahkan mereka umumnya menjadi bagian tak terpisah dari masyarakat itu sendiri.

Sebab, masyarakat di sekitarnya lah yang memang menjadi target kebohongan dan perilaku manipulatif mereka. Ada yang menyandang status sebagai figur terpandang atau kaum elit. Ada Pebisnis hingga oknum politisi. Mereka punya rekam jejak tak terpuji. Umumnya haus kuasa dan koruptif.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Teguhkan Bela Negara untuk Indonesia Maju, Pakpak Bharat Gelar Upacara Nasional
Di Balik Jalan Rusak Lampung Barat, GN-PK Mencium Bau Korupsi
Peringati Hari Bela Negara ke-77, Baron Harahap: Rakyat Harus Bersatu Lawan Pengkhianat Bangsa
Hari Bela Negara 2025, ASN Kanwil Kemenkumham Bali Bersatu Teguhkan Semangat Nasional
Kapolres Gianyar Pimpin Upacara Hari Bela Negara ke-77, Tegaskan Nasionalisme Modern di Era Digital: Tak Hanya Angkat Senjata!
Netralitas ASN Dipersoalkan, Pejabat Inspektorat Jadi MC Acara Partai di Nias Selatan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru