Timur Tengah Lumpuh, Delapan Negara Hentikan Penerbangan Akibat Konflik Iran-AS-Israel
DOHA Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekacauan di kawasan Timur Tengah. Sedikitnya delapan negara menut
INTERNASIONAL
Oleh: GusWedha
SETIAP kali pariwisata Bali dibicarakan, satu pertanyaan klise selalu muncul: "Kenapa Bali terlihat sepi?" Pertanyaan ini bukan hanya dangkal, tetapi juga menunjukkan cara berpikir yang keliru dalam membaca industri pariwisata.
Baca Juga:Pariwisata bukan lomba keramaian, dan jalanan padat bukan indikator kesehatan ekonomi.
Membandingkan Bali dengan Yogyakarta semata-mata dari jumlah orang di ruang publik adalah kesalahan logika. Keduanya tidak pernah berada di lintasan yang sama.
Yogyakarta dibangun sebagai destinasi wisata domestik massal yang murah, cepat, dan padat.
Bus-bus pariwisata datang silih berganti, rombongan pelajar memenuhi trotoar, dan kamera media merekam kepadatan sebagai simbol "hidupnya" pariwisata.Namun, apakah ramai selalu berarti berhasil? Tidak selalu.
Bali sejak awal diarahkan menjadi destinasi internasional dengan struktur ekonomi pariwisata bernilai tinggi.
Wisatawan Bali tidak sekadar datang, berfoto, lalu pulang. Mereka tinggal lebih lama, membelanjakan lebih besar, dan menyerap rantai ekonomi yang jauh lebih kompleks.
Transaksi besar terjadi di ruang-ruang yang jarang diliput kamera: vila privat, resor eksklusif, pusat konvensi, restoran fine dining, hingga industri kreatif berbasis pengalaman.Masalahnya, public dan sering kali pembuat opini seperti terjebak pada apa yang terlihat, bukan pada apa yang bekerja.
Jalanan sepi langsung diterjemahkan sebagai krisis, padahal bisa jadi itu adalah konsekuensi dari pergeseran model pariwisata: dari kuantitas ke kualitas. Dari kerumunan ke keberlanjutan.
Banyak yang bergerak cepat, tetapi sedikit yang bertahan lama. Bali dan Yogyakarta seharusnya tidak dipertentangkan, apalagi diperlombakan.
Keduanya menjawab kebutuhan pasar yang berbeda.
Baca Juga:
Yang satu menampilkan denyut ekonomi secara kasat mata, yang lain menyerap nilai secara mendalam. Memaksakan satu indikator untuk dua sistem berbeda hanya akan menghasilkan kesimpulan yang salah.
Sudah saatnya diskursus pariwisata berhenti mengandalkan keramaian sebagai tolok ukur tunggal. Pariwisata adalah ekosistem, bukan panggung.
Ia bekerja dalam statistik lama tinggal, belanja per wisatawan, kualitas tenaga kerja, dan daya dukung lingkungan, bukan sekadar jumlah kepala dalam satu bingkai foto.
Jika kita terus menilai pariwisata dari apa yang terlihat ramai, maka kita sedang menipu diri sendiri. Dan pariwisata, seperti ekonomi pada umumnya, tidak pernah ramah terhadap ilusi.*
*)Penulis adalah Wartawan bitvonline.com
DOHA Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kekacauan di kawasan Timur Tengah. Sedikitnya delapan negara menut
INTERNASIONAL
JAKARTA PT PLN Indonesia Power memastikan keandalan pasokan listrik di Sumatera Utara menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Perus
EKONOMI
JAKARTA Bank Indonesia (BI) mendorong industri perbankan segera memangkas suku bunga kredit guna memperkuat intermediasi dan mendorong p
EKONOMI
PADANG LAWAS Pemerintah Kabupaten Padang Lawas mengikuti rapat persiapan kunjungan Gubernur Sumatera Utara dalam rangka Safari Ramadan t
PEMERINTAHAN
JAKARTA Gelombang serangan rudal Israel di Iran semakin meningkat. Sebuah sekolah dasar putri di kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran se
INTERNASIONAL
PADANGSIDIMPUAN Polres Padangsidimpuan dan Rumah Sakit Bhayangkara TK IV Batang Toru mengikuti pelaksanaan Audit Kinerja Tahap I oleh In
NASIONAL
JAKARTA Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan, Roy Soemirat, menegaskan pihaknya terus melakukan komunikasi intensif
INTERNASIONAL
LUBUKPAKAM Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, resmi menunjuk Nusantara Tarigan Silangit sebagai Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten De
POLITIK
BATU BARA Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso, meninjau pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Muhammadiy
NASIONAL
BIREUEN Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Aceh, Malahayati M. Nasir, bersama jajaran pengurus, menyalurkan paket bantuan Ramadan kepad
NASIONAL