BREAKING NEWS
Rabu, 15 April 2026

Ketika Cuaca Ekstrem Menjadi Normal Baru

BITV Admin - Rabu, 31 Desember 2025 17:59 WIB
Ketika Cuaca Ekstrem Menjadi Normal Baru
ilustrasi Cuaca Ekstrem. (Foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Indonesia, sebagai negara tropis dengan laut hangat dan kandungan uap air tinggi, sangat sensitif terhadap perubahan kecil suhu global. Sedikit peningkatan suhu laut dapat meningkatkan kapasitas atmosfer untuk menyimpan uap air.

Ketika uap air ini dilepaskan, hujan yang turun bukan lagi sekadar lebat, melainkan sangat lebat dalam waktu singkat.

Di banyak wilayah Indonesia, termasuk di kawasan pantai barat Sumatra, hujan lebat sejatinya bukan fenomena baru. Wilayah ini secara alami memiliki pola hujan ekuatorial dengan dua puncak hujan tahunan.

Namun yang membedakan situasi sekarang adalah intensitas dan keterulangannya. Hujan ekstrem datang berkali-kali sebelum tanah sempat mengering, sebelum sungai kembali ke kapasitas normalnya.

Baca Juga:

Akibatnya bersifat akumulatif. Tanah kehilangan daya serap, lereng menjadi rapuh, dan sungai meluap lebih cepat. Banyak bencana hidrometeorologi tidak terjadi karena satu kejadian hujan besar, melainkan karena rangkaian hujan ekstrem yang datang bertubi-tubi.

Dalam kondisi seperti ini, bencana menjadi bukan lagi soal "jika", tetapi "kapan".Sering kali, ketika bencana terjadi, kita menyalahkan alam. Padahal, hujan hanyalah bahaya.

Ia baru berubah menjadi bencana ketika bertemu dengan kerentanan yang diciptakan manusia: hutan yang hilang, daerah resapan yang menyusut, sungai yang menyempit, dan kota yang tumbuh tanpa ruang air.

Perubahan iklim meningkatkan tingkat bahaya, sementara keputusan pembangunan menentukan besarnya risiko.

Dengan kata lain, hujan yang sama dapat menjadi berkah di satu tempat, tetapi menjadi bencana di tempat lain.

Perbedaannya bukan terletak pada hujannya, melainkan pada kesiapan wilayah dan masyarakatnya.

Di sinilah tantangan besar kita hari ini. Jika cuaca ekstrem telah menjadi bagian dari normal baru iklim, maka pendekatan lama tidak lagi memadai.

Kita tidak bisa terus mengandalkan ingatan masa lalu untuk membaca risiko masa depan. Pola lama tidak lagi menjadi rujukan yang aman.

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Banjir Rendam Sejumlah Ruas Jalan di Tanjungbalai, Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem
PLN Sumut Kerahkan 701 Personel Siaga Kelistrikan Hadapi Cuaca Ekstrem
Minim Respons Pemerintah, Warga Pertanyakan Tidak Adanya Himbauan Libur Sekolah bagi Daerah Terdampak Bencana
Hujan Deras dan Angin Kencang, Delapan Ton Ikan Nila di Danau Maninjau Mati
Banjir Besar Rendam Labuhan Deli, Aktivitas Warga Lumpuh dan Sungai Deli Meluap
Hujan Deras dan Angin Kencang Landa Sei Rampah, Sejumlah Titik Terendam dan Arus Lalu Lintas Melambat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru